Oleh: Gema Suara Pemuda Aliansi Pinogu
Kepada Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, Sang Nahkoda Kapal Besar, dari relung terdalam Rimba Nantu, kami mengirimkan surat ini. Kami bukan sekadar titik pada peta, kami adalah cermin bening yang memantulkan wajah sejati keadilan negeri ini. Pinogu memanggil, bukan dengan ratapan, melainkan dengan gong perlawanan sunyi.
Sebuah Kidung Sejarah di Jantung Hutan Pinogu adalah sebuah aksara tua yang tertulis di lembaran sejarah Gorontalo. Ia bukan anak kemarin sore, melainkan akar tunjang yang kokoh berdiri, saksi bisu bisikan para pejuang, dan benteng alami yang memeluk kekayaan Ibu Pertiwi. Masyarakatnya adalah penjaga lentera adat di tengah hutan yang menjanjikan kemakmuran. Namun, sejarah gemilang itu kini terpasung, terkurung dalam dinding pemekaran yang hanya menawarkan janji fana.
Jalan Pinogu Benang Kusut yang Memisahkan Jantung dan Nadi Sejak fajar kemerdekaan menyingsing, jalan menuju Pinogu tak lebih dari sebuah pita keluh kesah.
Dahulu, ia hanyalah urat setapak yang dirangkai peluh pejalan kaki.
Kini, ia menjelma sungai lumpur purba yang keras kepala menolak sentuhan aspal.
Ketika musim tangis langit tiba, jalan itu berubah menjadi tirai besi alami, memutus total Pinogu dari denyut nadi peradaban.
Jalur ini bukan lagi penghubung, melainkan gerbang tol penderitaan. Setiap butir kebutuhan yang masuk harus membayar mahal kepada Dewi Logistik yang tak kenal ampun, membuat kemakmuran kota menjadi sekadar fatamorgana bagi rakyat Pinogu.
Pelita dan Tabib Janji Negeri yang Terkunci Dua tiang penyangga peradaban, Pendidikan dan Kesehatan, di Pinogu terasa lapuk dimakan usia.
Pelita Ilmu Sekolah kami adalah ruang hampa yang merindukan cahaya. Guru-guru adalah pahlawan yang diupah sehelai daun, berjuang keras mencetak tunas bangsa tanpa fasilitas yang memadai. Anak-anak Pinogu seolah kehilangan hak untuk meraih bintang yang sama dengan anak-anak ibu kota.
Tabib dan Obat Puskesmas hanyalah rumah singgah yang sering kosong dari Sang Juru Sembuh (Dokter) dan ramuan penawar. Saat panah penyakit menancap atau nyawa terancam, evakuasi adalah perjalanan menuju batas tipis antara hidup dan mati, sebuah pertaruhan tragis yang kerap dimenangkan oleh maut.
Ojek Pinogu Kuda Besi Penantang Maut
Di atas lumpur dan batu cadas, berdirilah ksatria-ksatria sunyi, para Ojek Pinogu. Mereka adalah sayap-sayap paksa bagi warga, mengendarai kuda besi yang dimodifikasi untuk menari di atas jurang.
Medan Laga: Setiap hari adalah perang melawan gravitasi, lumpur, dan tebing. Mereka mengangkut harapan dengan motor yang meraung, menukik dan bangkit lagi.
Upah Risalah Mereka dibayar bukan hanya dengan uang, tetapi dengan risiko patah tulang dan taruhan nyawa. Mereka adalah monumen bergerak yang mengingatkan negara tentang utangnya pada infrastruktur.
Panggilan untuk Para Pemangku Panji Dari Daerah Hingga Istana Kami bertanya, kepada para Pemangku Panji di Bone Bolango, kepada Gubernur sebagai Payung Negeri, dan kepada Istana Negara yang terhormat: Di manakah tali kasih dari Keadilan Sosial yang tertulis dalam Sila Kelima?
Pinogu tidak meminta emas, kami hanya menuntut benang penghubung yang kokoh.
Kami bukan warga kelas dua. Kami adalah serpihan mozaik Indonesia yang harus direkatkan kembali.
Bapak Presiden, ulurkan tangan besi Anda, bukan untuk menghukum, tetapi untuk memahat jalan keadilan. Instruksikanlah seluruh jajaran, agar Pinogu segera dipandang sebagai Mahkota Pembangunan Nasional.
Pungkas Kata: Dari Jalanan ke Meja Perundingan Kami, pemuda Pinogu, tidak hanya mampu memegang parang. Kami juga mampu memegang pena dan suara.
Kami turun ke jalan sebagai bara api protes, menolak janji yang hanya menjadi debu di udara.
Kami duduk di meja hening FGD, merangkai solusi bersama akal budi.
Kini, suara kami telah menembus gerbang perbendaharaan tertinggi, BAM DPR-RI, mencoba mengetuk pintu Kas Negara agar Pinogu mendapat alokasi tak terelakkan.
Refleksi: Jika Pinogu, yang kaya alam dan sejarah, masih terjerat dalam lumpur dan keterbatasan, maka Indonesia belumlah sempurna.
Bapak Presiden, jadikanlah Pinogu batu ujian pertama pemerintahan Anda dalam menegakkan keadilan. Palu kebijakan kini ada di tangan Anda. Kami menanti terbitnya fajar infrastruktur yang akan menyinari Pinogu, membuktikan bahwa Pinogu adalah, dan akan selalu menjadi, Indonesia seutuhnya











