Poota.id, Boalemo – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boalemo, Sutriyani Lumula, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pentingnya imunisasi bagi anak-anak. Menurutnya, imunisasi adalah langkah paling efektif dan aman dalam melindungi bayi dan balita dari berbagai penyakit berbahaya yang dapat mengancam nyawa.
“Imunisasi bukan sekadar program kesehatan, tapi investasi masa depan anak. Satu suntikan bisa menyelamatkan hidupnya,” tegas Sutriyani, Kamis (16/10/2025).
“Lebih baik mencegah dengan vaksin daripada menyesal karena terlambat,” tambahnya.
Imunisasi, Cara Aman Tubuh Belajar Melawan Penyakit
Sutriyani menjelaskan, imunisasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk membangun kekebalan terhadap penyakit tertentu. Melalui vaksin, tubuh dilatih untuk mengenali dan melawan kuman tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu.
“Dengan imunisasi, tubuh anak belajar ‘melawan penyakit’ secara aman. Ini cara paling efektif untuk mencegah penyakit menular yang bisa menyebabkan kecacatan, komplikasi berat, bahkan kematian,” jelas Sutriyani.
Bayi dan balita menjadi prioritas utama karena sistem kekebalan tubuh mereka masih lemah. Jika tidak diimunisasi sejak dini, risiko tertular penyakit berat seperti TBC, Polio, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan Campak akan meningkat tajam.
Capaian Imunisasi di Boalemo Masih Rendah
Hingga 30 September 2025, capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kabupaten Boalemo baru mencapai 58,50 persen, atau 1.638 bayi dari total 2.800 sasaran. Sementara untuk imunisasi lanjutan pada anak usia 18–23 bulan, capaian baru mencapai 58,19 persen dari 2.803 sasaran.
“Target nasional seharusnya minimal 95 persen, dan itu harus merata di semua wilayah,” terang Sutriyani.
Perbandingan antar puskesmas juga menunjukkan ketimpangan. PKM Saritani mencatat capaian tertinggi (64,89%), sementara PKM Bongo II menjadi yang terendah (55,19%).
Untuk imunisasi balita lengkap, PKM Pangi mencapai 68,63%, sedangkan PKM Berlian baru 38,82%.
Sutriyani menyebut, salah satu faktor penyebab masih rendahnya angka imunisasi adalah kurangnya kesadaran masyarakat dan maraknya berita hoaks tentang vaksin.
“Masih ada orang tua yang takut anaknya diimunisasi karena percaya kabar tidak benar di media sosial. Padahal vaksin aman, halal, dan sudah terbukti menyelamatkan jutaan anak Indonesia,” tegasnya.
Bahaya Campak: Bukan Penyakit Ringan
Rendahnya cakupan imunisasi membuat Boalemo kini menghadapi ancaman serius penyakit campak, yang dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) bila tidak diantisipasi.
Data Dinkes Boalemo menunjukkan, sejak awal tahun hingga minggu ke-40, terdapat 42 kasus suspek campak yang tersebar di tujuh wilayah puskesmas, dengan dua kasus positif dari Desa Bongo Nol.
“Campak bukan penyakit ringan. Gejalanya bisa berawal dari demam, batuk, pilek, mata merah, hingga ruam di seluruh tubuh. Tapi bila tak ditangani, bisa berujung pada pneumonia, radang otak, kebutaan, bahkan kematian,” ujar Sutriyani Lumula.
Penyakit ini juga sangat menular. Virus campak menyebar lewat udara saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Karena itu, satu anak yang tidak diimunisasi bisa menjadi sumber penularan bagi banyak anak lainnya.
Vaksin MR: Perlindungan Ganda dari Campak dan Rubella
Untuk mencegah campak dan rubella, Dinkes Boalemo terus mendorong pelaksanaan vaksin Measles-Rubella (MR).
Vaksin ini diberikan tiga kali, saat anak berusia 9 bulan, diulang pada usia 18 bulan, dan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di kelas 1 SD.
Imunisasi MR tidak hanya mencegah campak, tapi juga rubella, yang bisa menyebabkan cacat bawaan permanen pada bayi jika menyerang ibu hamil.
“Efek samping ringan seperti demam atau bengkak itu wajar. Itu tanda tubuh anak sedang membangun kekebalan, jangan takut imunisasi, takutlah jika anak kita kehilangan masa depan karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah,” jelas Sutriyani.
Imunisasi (Perlindungan Seumur Hidup)
Selain mencegah penyakit menular, imunisasi juga memberikan dasar kesehatan seumur hidup bagi anak.
Ketika semua anak mendapatkan imunisasi lengkap, masyarakat akan mencapai kondisi herd immunity atau kekebalan kelompok, yang membuat penyebaran penyakit dapat dihentikan secara alami.
“Imunisasi bukan hanya melindungi satu anak, tapi seluruh keluarga dan komunitas,” tegas Sutriyani.
“Semakin banyak anak yang divaksin, semakin kecil peluang penyakit menular berkembang di lingkungan kita.”
Untuk mengejar target capaian 95 persen, Dinas Kesehatan Boalemo terus melakukan berbagai upaya, antara lain:
- Edukasi langsung ke masyarakat melalui posyandu dan kegiatan lintas desa.
- Kemitraan dengan media dan tokoh agama untuk meluruskan hoaks seputar vaksin.
- Pelayanan imunisasi keliling di daerah sulit dijangkau.
- Pemantauan rutin di sekolah dan puskesmas untuk memastikan jadwal imunisasi anak terpenuhi.
“Kami ingin menjadikan imunisasi sebagai gerakan bersama. Bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi tanggung jawab semua orang tua di Boalemo,” ujar Sutriyani.
Menutup keterangannya, Sutriyani mengajak seluruh masyarakat Boalemo untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.
“Jangan tunggu anak sakit baru sadar pentingnya imunisasi. Satu suntikan hari ini bisa menyelamatkan nyawa anak kita besok. Lindungi anak, lindungi masa depan Boalemo,” pesan Sutriyani.













