Poota.id, Bone Bolango – Koordinator Aliansi Peduli Pertambangan Rakyat, Fahrul Wahidji, angkat bicara menanggapi maraknya isu negatif yang menyudutkan sektor pertambangan rakyat di wilayah Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (7/5/2026).
Fahrul menegaskan bahwa narasi mengenai pencemaran ekologis yang kerap beredar di media massa adalah tuduhan prematur dan tidak berbasis data lapangan.
Dirinya menjelaskan bahwa metode pengolahan emas oleh masyarakat Suwawa berbeda dengan tambang skala besar yang bersifat destruktif. Menurutnya, mayoritas penambang masih menggunakan alat tradisional dan memiliki sistem pengelolaan limbah yang disiplin.
“Limbah hasil pengolahan ditampung di bak penampungan khusus dan didaur ulang secara mandiri. Tidak ada limbah yang dialirkan ke sungai sebagaimana yang dituduhkan,” tegas Fahrul.
Selain membantah isu lingkungan, ia juga menyebut tambang Suwawa sebagai gantungan hidup utama masyarakat di tengah minimnya lapangan pekerjaan di Provinsi Gorontalo.
Aktivitas pertambangan ini kata Fahrul, telah berlangsung selama puluhan tahun secara turun-temurun. Hasil dari pertambangan tersebut digunakan warga untuk membiayai kebutuhan pokok serta menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Menyikapi desakan penertiban dari berbagai pihak, Aliansi Peduli Pertambangan Rakyat meminta Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bertindak bijaksana dengan mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi.
Fahrul mendesak negara agar hadir memberikan solusi konkret melalui pembinaan dan kemudahan perizinan, bukan justru memberangus mata pencaharian rakyat.
“Bantu rakyat, bina mereka, dan permudah proses perizinan agar menjadi legal. Jika dilegalkan, negara bisa mengontrol, rakyat bisa bekerja dengan tenang, dan lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.













