Oleh: Fahrul Wahidji (Aktivis dan Pengamat Kebijakan Publik Bone Bolango)
Poota.id, Opini – Bone Bolango bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Gorontalo. Ia adalah tanah bersejarah—Bumi di Ufuk Timur Hulondalo—yang menyimpan emas di perut bumi dan jejak raja di permukaan tanahnya. Dari lembah hingga pesisir Teluk Tomini, Bone Bolango adalah Ladang Warisan yang kaya akan potensi agrikultur, sumber daya alam, serta nilai budaya dan sejarah yang tak ternilai.
Namun kini, panorama keteduhan itu diselimuti riuh politik yang menggema di balik teduhnya pepohonan. Genderang politik berdentum, suhu sosial memanas, dan aroma konflik merebak di udara. Sayangnya, semua ini sering kali hanya fatamorgana politik—sebuah panggung bayangan yang sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan utama: moralitas kepemimpinan dan hancurnya etika birokrasi.
Rakyat Bone Bolango sejatinya tetap tenang dan teguh, seperti pohon yang berdiri kokoh di lereng. Mereka masih memegang nilai kedamaian dan kebersamaan, meski sedang diadu domba oleh mereka yang haus kekuasaan.
Topeng Adat dan Belati Kepentingan
Sumber dari api dalam sekam kepemimpinan ini adalah terkikisnya moralitas di lingkaran elite birokrasi dan politik daerah. Kita menyaksikan drama menyedihkan: “Mengarak bendera adat di tangan, namun menyembunyikan belati kepentingan di balik jubah.”
Adat istiadat yang seharusnya menjadi tali penambat marwah daerah kini kerap dijadikan topeng legitimasi. Beberapa oknum birokrat dan elit politik mengenakan Topeng Adat hanya untuk mendekati pemimpin, menjual nilai-nilai luhur hanya demi keuntungan pribadi. Mereka inilah Benalu Birokrasi—tampak setia, merunduk di batang kepemimpinan, namun sesungguhnya menyedot sari pati kekuasaan untuk kepentingan kroni.
Kepalsuan dan manipulasi kepentingan inilah yang menciptakan api dalam sekam: bara kecil di bawah permukaan yang perlahan membakar akar moralitas birokrasi.
Kembali ke Jangkar Moral: Limo Lo Pohalaa
Untuk memadamkan api ini, Bone Bolango membutuhkan Jangkar Moral yang kokoh: Limo Lo Pohalaa.
Lima pilar ini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan kode etik kepemimpinan Gorontalo yang telah teruji zaman. Di dalamnya terkandung nilai-nilai persaudaraan (lo hungo lo dulahu), persatuan (lo hungo lo duhelo), dan kedaulatan (lo hungo lo lipu). Nilai-nilai ini menjadi dasar Payu Limo Totalu—falsafah pengabdian raga, pengorbanan jiwa, dan pembelaan terhadap negeri.
Jika nilai-nilai ini kembali dijadikan dasar dalam tata kelola pemerintahan Bone Bolango, maka segala bentuk konflik kepentingan akan mencair. Bahtera kepemimpinan daerah akan kembali berlayar di atas kompas moralitas, bukan pada arah politik sesaat.
Menyaring Lumpur KKN dari Sungai Birokrasi
Langkah berikutnya adalah membersihkan birokrasi dari lumpur KKN yang telah mengendap terlalu lama. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah racun yang mengeruhkan air pemerintahan.
Air yang seharusnya mengaliri ladang kemakmuran rakyat kini tersumbat dan menguap sebelum sampai ke petani dan nelayan di akar rumput.
Bone Bolango membutuhkan reformasi birokrasi sejati—bukan sekadar slogan seremonial. Pemerintah daerah harus berani mencabut akar duri KKN melalui sistem pengawasan ketat, transparansi anggaran, serta mekanisme hukum yang tegas tanpa pandang bulu. Pemimpin sejati harus berani mengeringkan rawa korupsi dan menyalurkan air jernih integritas hingga ke pelosok desa.
Karena hanya dengan air birokrasi yang jernih itulah pembangunan dapat tumbuh subur, ekonomi rakyat bergerak, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kembali pulih.
Mengayuh dengan Komitmen Moral
Api dalam sekam kepemimpinan Bone Bolango bukanlah hal kecil. Ia bisa membakar seluruh tatanan pemerintahan jika dibiarkan. Karena itu, aktivis, akademisi, dan masyarakat harus bersatu dalam satu suara: menuntut kembalinya kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral dan adat Limo Lo Pohalaa.
Kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mampu menjaga warisan leluhur dengan jujur dan berani. Bone Bolango membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berpidato, tetapi juga berani melawan benalu birokrasi dari dalam.
Saatnya mengayuh biduk kepemimpinan di Teluk Tomini dengan komitmen moral yang kuat.
Karena hanya dengan berpegang pada nilai-nilai luhur Limo Lo Pohalaa, Bone Bolango dapat menyelamatkan warisan sejarah, sumber daya alam, dan masa depan rakyatnya dari cengkeraman kepentingan sesaat.













