Penulis: Lion Hidjun.,S.Pd.,SH.,MH
Poota.id, Opini – Kemarin saya menapakkan kaki di sebuah lokasi tambang tradisional di Kabupaten Bone Bolango. Saya datang bukan sekadar melihat tumpukan batu dan lubang galian, tetapi menyaksikan potret kehidupan yang jarang dipahami oleh mereka yang hanya menilai tambang dari balik meja.
Di sana, saya melihat manusia-manusia yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Ada kabilasa—mereka yang dengan sabar mengumpulkan sisa-sisa material bekas olahan penambang lain. Dengan harapan yang tak pernah padam, mereka mencari serpihan emas yang mungkin masih tertinggal. Bagi sebagian orang, itu hanyalah limbah. Namun bagi mereka, limbah itu adalah harapan.
Saya melihat para pengemudi ojek tambang. Mereka menaklukkan jalan-jalan terjal, berlumpur, berbatu, dan penuh risiko. Setiap perjalanan bukan sekadar mengantar penumpang atau barang, tetapi mempertaruhkan keselamatan demi membawa pulang selembar rupiah untuk keluarga.
Saya juga menyaksikan para porter. Bahu mereka menjadi tempat bertumpunya beban puluhan kilogram yang harus dipikul melintasi medan yang bahkan sulit dilewati kendaraan. Keringat mengalir tanpa henti. Napas tersengal. Namun tak satu pun dari mereka mengeluh. Mereka memahami bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan yang mudah.
Namun, di antara semua pemandangan itu, ada satu sosok yang membuat langkah saya terhenti.
Seorang penyandang disabilitas.
Lengan kanannya telah tiada. Tubuhnya menyimpan keterbatasan yang bagi banyak orang mungkin menjadi alasan untuk menyerah. Tetapi tidak baginya.
Sudah bertahun-tahun ia menggantungkan hidup di tambang tradisional Bone Bolango. Dengan satu tangan yang tersisa, ia bekerja sebagaimana pekerja lainnya. Tidak meminta belas kasihan. Tidak mengemis. Tidak menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk berhenti berjuang.
Ketika saya bertanya mengapa ia memilih pekerjaan seberat ini, jawabannya begitu sederhana, tetapi menghantam hati saya.
“Daripada saya meminta-minta di kampung, menjadi beban pemerintah, atau membebani keluarga, lebih baik saya bertahan hidup di tambang. Saya bukan mencari kaya. Saya hanya ingin menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tidak menjadi beban bagi siapa pun.”
Kalimat itu tidak lahir dari ruang seminar. Tidak disusun oleh motivator. Tidak pula ditulis dalam buku-buku pengembangan diri.
Kalimat itu lahir dari seorang lelaki yang setiap hari bertarung dengan kerasnya alam dan beratnya kehidupan.
Saat itu saya menyadari, tambang tradisional bukan hanya tentang emas. Di sana tersimpan martabat manusia. Ada harga diri yang dipertahankan. Ada tanggung jawab yang dipikul. Ada cinta kepada keluarga yang membuat seseorang rela menantang maut setiap hari.
Mereka bukan sedang mengejar kemewahan.
Mereka hanya sedang memperjuangkan kesempatan untuk tetap hidup dengan terhormat.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang penambang tradisional, jangan hanya melihat lubang galian atau bongkahan batu. Lihatlah wajah-wajah yang menggantungkan harapan di sana. Lihatlah anak-anak yang menunggu ayahnya pulang. Lihatlah para istri yang berharap suaminya kembali dengan selamat. Dan lihatlah seorang penyandang disabilitas yang memilih bekerja keras daripada mengulurkan tangan meminta belas kasihan.
Mungkin mereka miskin secara materi.
Namun mereka kaya akan harga diri.
Mereka tidak meminta dikasihani. Mereka hanya berharap diperlakukan dengan adil. Diberikan perlindungan hukum, kesempatan bekerja secara legal, dan keberpihakan negara agar perjuangan mereka tidak selalu dipandang sebagai kesalahan, melainkan sebagai jeritan rakyat kecil yang sedang mencari nafkah.
Sebab di balik setiap butir emas yang keluar dari perut bumi Bone Bolango, tersimpan keringat, air mata, doa, dan pengorbanan orang-orang kecil yang hanya ingin hidup layak.
Dan saya pulang dari tambang itu dengan satu keyakinan: kemiskinan tidak pernah menghilangkan kehormatan seseorang. Justru di tempat yang paling keras itulah saya menemukan pelajaran paling berharga tentang keberanian, tanggung jawab, dan kemuliaan dalam mempertahankan hidup.













