Janji di Balik Meja

Poota.id, Cerpen – Hujan deras membasahi kaca jendela ruang kerja Jaksa Sarton ketika ponselnya berdering. Nomor yang tidak dikenal, tetapi suara di ujung telepon sangat familiar.

“Pak Jaksa, kita perlu bicara. Segera.”

Suara Jaya, anggota DPRD yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang pandai bersilat lidah di rapat-rapat dewan. Kali ini, nada bicaranya berbeda—tegang dan mendesak.

Dua jam kemudian, mereka duduk berhadapan di sebuah kafe sepi di pinggiran kota. Jaya tampak gelisah, sesekali menoleh ke kiri dan kanan sebelum berbicara.

“Pak, saya dalam masalah besar,” bisik Jaya. “Tim audit menemukan sesuatu tentang proyek infrastruktur tahun lalu.”

Sarton mengernyitkan dahi. Dia tahu betul proyek mana yang dimaksud—pembangunan jalan senilai 15 miliar rupiah yang anggarannya “membengkak” menjadi 22 miliar. Dana yang seharusnya untuk memperbaiki akses jalan ke desa-desa terpencil, sebagian besar menguap entah kemana.

“Berapa yang hilang?” tanya Sarton pelan.

“Sekitar 6 miliar. Saya dan beberapa rekan… kami terpaksa melakukannya. Kondisi keuangan partai sangat sulit menjelang pemilu kemarin.” Jawab Jaya dengan raut muka belas kasihan.

Sarton diam sejenak, jari-jarinya mengetuk meja dengan perlahan. Sebagai jaksa yang menangani kasus-kasus korupsi, dia paham betul konsekuensi dari apa yang telah dilakukan Jaya. Namun, sebuah ide licik mulai terbentuk di benaknya.

Baca Juga :  Ketika Dewan Jadi Makelar: Boalemo dalam Cengkeraman Pengkhianat Rakyat

“Saya bisa membantu,” kata Sarton akhirnya. “Tapi ada syaratnya.”

Mata Jaya berbinar harap. “Apa saja, Pak. Asal masalah ini tidak sampai ke pengadilan.”

“Kantor saya sedang membutuhkan renovasi besar-besaran. Sistem IT yang baru, mobil operasional, dan beberapa fasilitas lain. Total sekitar 3 miliar.”

Jaya terdiam. Dia paham maksud jaksa di hadapannya.

“Pak Jaksa… bukankah ini…”

“Ini investasi untuk masa depan penegakan hukum yang lebih baik,” potong Sarton dengan senyum tipis.

“Lagipula, 3 miliar itu masih jauh lebih kecil dari 6 miliar yang sudah hilang, bukan?”

Minggu-minggu berikutnya, berkas kasus korupsi proyek infrastruktur itu seperti tenggelam di meja Sarton. Tidak ada tindak lanjut, tidak ada pemanggilan saksi. Sementara itu, kantor kejaksaan tempat dia bekerja mulai dipenuhi peralatan baru yang mengkilap.

Namun, karma memiliki caranya sendiri. Seorang whistleblower dari dalam tim audit melaporkan dugaan pengabaian kasus ke KPK. Tidak lama kemudian, baik Sarton maupun Jaya mendapati diri mereka duduk di kursi yang sama—sebagai tersangka.

Baca Juga :  Rekonsiliasi BSG dan Elit Gorontalo, Antara Solusi atau Sekadar Manuver Politik?

Di ruang tahanan, Jaya menatap Sarton dengan pahit. “Pak, janji Bapak untuk melindungi saya…”

“Saya sudah menepatinya,” jawab Sarton datar. “Saya tidak pernah mengungkap kasus Anda. Orang lain yang melakukannya.”

Ironi yang pahit. Mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melayani rakyat, justru menjadi dalang dalam merampas hak-hak rakyat. Uang yang seharusnya membangun jalan untuk memudahkan anak-anak desa pergi ke sekolah, kini berubah menjadi belenggu yang mengikat mereka berdua.
Di luar jendela penjara, hujan kembali turun—seolah alam ikut menangisi nasib rakyat yang terus menjadi korban ketamakan para pemimpinnya.

Penulis: Jeffry Rumampuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *