Kasus Malaria Meningkat, Dinkes Boalemo Gencarkan Pengendalian dan Edukasi Warga

Ilustrasi

Poota.id, Boalemo – Setelah sempat dinyatakan bebas malaria pada tahun 2021, Kabupaten Boalemo kini kembali menghadapi tantangan serius dalam upaya mempertahankan status eliminasi malaria. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Boalemo menunjukkan adanya peningkatan kasus malaria selama tiga tahun terakhir yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas pertambangan rakyat.

Kepala Dinas Kesehatan Boalemo, Sutriyani Lumula, mengungkapkan pada tahun 2021 Boalemo berhasil menerima Sertifikat Eliminasi Malaria dari Kementerian Kesehatan RI. Capaian itu merupakan hasil pengendalian kasus selama tiga tahun berturut-turut (2018–2020), di mana tidak ditemukan kasus indigenous atau penularan lokal.

Namun situasi berubah pada tahun 2023 ketika terdeteksi kembali penularan malaria di wilayah tambang Kabupaten Pohuwato, yang berdampak hingga ke tiga kecamatan di Boalemo, Mananggu, Botumoito, dan Tilamuta.

“Banyak warga dari tiga kecamatan tersebut yang melakukan aktivitas pertambangan di Desa Hulawa, Pohuwato. Akibatnya, penularan malaria terbawa kembali ke wilayah Boalemo,” ungkapnya.

Dari catatan Dinkes Boalemo, kasus malaria di daerah itu terus ditemukan dalam tiga tahun terakhir.

Tahun 2023 tercatat sebanyak 514 kasus malaria yang ditemukan dan diobati. Tahun 2024 menurun sedikit menjadi 485 kasus. Sementara hingga Oktober 2025, sudah tercatat 478 kasus.

Sutriyani mengatakan, kondisi ini menunjukkan bahwa meski upaya pengendalian terus dilakukan, penularan malaria masih menjadi ancaman serius terutama di daerah dengan aktivitas tambang dan hutan.

Baca Juga :  Aksi FPKG, Sekda Bone Bolango Akui Temuan BPK

Untuk menekan penyebaran penyakit menular ini, Dinas Kesehatan Boalemo melakukan berbagai langkah strategis dan terpadu, di antaranya:

Skrining Malaria di Lokasi Tambang
Pemeriksaan darah dilakukan secara rutin di area pertambangan untuk mendeteksi dini para pekerja yang terinfeksi malaria.

Survei Cepat Desa Berisiko Tinggi
Tim surveilans turun langsung ke desa-desa yang memiliki risiko tinggi penularan malaria guna memetakan potensi penyebaran penyakit.

Pengendalian Vektor Nyamuk
Dinkes melakukan pemberian larvasida di genangan air bekas galian tambang, kolam ikan tak terpakai, serta lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles.

Penyemprotan Rumah Penduduk
Di wilayah dengan kasus malaria tinggi, dilakukan penyemprotan rumah warga untuk membasmi nyamuk dewasa yang menjadi pembawa parasit malaria.

Pemberian Obat Pencegahan
Para pekerja hutan dan tambang diberikan obat profilaksis malaria sebagai langkah pencegahan sebelum dan setelah beraktivitas di wilayah endemis.

Pembagian Kelambu
Di daerah dengan risiko tinggi, masyarakat dibagikan kelambu berinsektisida agar terlindung saat tidur di malam hari.

Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran malaria. Bentuk partisipasi tersebut dapat dilakukan melalui kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan pemeriksaan malaria di Puskesmas bagi warga yang baru kembali dari lokasi tambang.

Baca Juga :  Wakil Bupati Boalemo Tinjau Lahan Petani, Pastikan Bantuan Pertanian Tepat Sasaran

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menggunakan repellent atau lotion anti nyamuk saat beraktivitas di luar rumah pada malam hari, serta selalu tidur menggunakan kelambu. Bagi warga yang terdiagnosis malaria, sangat penting untuk meminum obat hingga tuntas agar tidak terjadi kekambuhan atau penularan lebih lanjut.

“Mari bersama kita jaga Boalemo agar kembali bebas dari malaria. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan,” tegas Sutriyani.

Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan Kabupaten Boalemo dapat kembali memperoleh status bebas malaria dan melindungi warganya dari penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *