Poota.id, Boalemo – Masyarakat Boalemo angkat suara terkait langkah Marten Basaur yang mengadukan Kapolres Boalemo ke Komisi III DPR RI. Langkah tersebut dinilai sarat kepentingan pribadi dan tidak merepresentasikan suara kolektif masyarakat Boalemo secara objektif.
Tokoh Pemuda Dulupi, Aditya Hambali, menyampaikan bahwa tindakan Marten justru menimbulkan keresahan dan kesan manipulatif terhadap institusi penegak hukum.
“Selama ini kami melihat kinerja Kapolres dan jajaran berjalan dengan tegas dan terukur. Masyarakat biasa justru merasa lebih aman dengan pendekatan yang dilakukan. Tuduhan arogansi dan diskriminasi itu tidak mencerminkan realitas lapangan,” ujar Aditya, Selasa (17/6/2025).
Aditya juga mempertanyakan latar belakang dan substansi dari pengaduan yang diajukan Marten. Menurutnya, jika ada indikasi ketidakpuasan atas penanganan hukum, seharusnya diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan justru membangun opini publik yang mendeligitimasi institusi negara.
“Jangan sampai ini hanya upaya pencitraan atau tameng untuk menghindari proses hukum yang sedang berjalan. Jika memang merasa benar, silakan tempuh jalur hukum, bukan malah memobilisasi opini dan membenturkan masyarakat dengan aparat,” tambah Aditya.
Selain itu, masyarakat mengingatkan bahwa Komisi III DPR RI memiliki peran pengawasan yang penting, namun tidak untuk dijadikan tempat pelampiasan narasi sepihak tanpa dasar kuat.
“Kami mendorong DPR tetap objektif dan proporsional. Aspirasi rakyat Boalemo yang sejati adalah suasana aman, damai, dan penegakan hukum yang adil, bukan sensasi politik personal,” tegasnya.
Aditya juga mengapresiasi Kapolres Boalemo yang tetap bersikap tenang dan fokus menjalankan tugasnya tanpa terpancing polemik. Dirinya menyatakan siap mendukung upaya kepolisian dalam menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.
“Kami berharap aparat tidak goyah oleh tekanan politik atau opini sepihak. Masyarakat yang waras tahu membedakan mana penegakan hukum, mana pengalihan isu,” tutup Aditya. (*)













