Opini  

Mengapa Mesti Kuliah di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Karena Dunia Butuh Pemikir Bukan Hanya Pengikut

Penulis: Arfan Nusi (Dosen Filsafat Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo)

Poota.id, Opini – Saya tidak pernah merencanakan untuk sampai di sini, di sebuah jurusan yang namanya saja kerap membuat orang mengernyitkan dahi, seolah tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Sebuah nama yang asing bagi sebagian besar orang, apalagi dua puluh tahun lalu, saat saya masih meyakini bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui jalur-jalur yang pasti: Seperti kedokteran, teknik, ekonomi, hukum atau jurusan-jurusan yang dieluk-elukan sebagai pintu menuju masa depan cerah.

Dulu, saya pun sempat berjalan di jalur itu, menuruti suara mayoritas. Suara keluarga, suara teman, bahkan suara ketakutan saya sendiri. Saya mengira hidup adalah garis lurus yang harus saya tapaki dengan disiplin. Bahwa satu-satunya cara untuk mencapai puncak adalah mengikuti peta yang telah disiapkan oleh orang lain.

Saya ingat betul perasaan itu, ketika pertama kali diterima di salah satu jurusan bukan Jurusan Aqidah Filsafat di IAIN. Ada kebanggaan yang membuncah, seolah kaki ini telah menginjakkan diri di atas bukit kesuksesan. Tapi segalanya berubah oleh satu pertemuan singkat. Perjumpaan saya dengan Pak Nurdin Pakaya, yang saat itu beliau menjabat sebagai Pembantu Rektor Tiga. Perjumpaan itu membelokkan arah takdir hidup saya.

Dalam percakapan singkat itu, beliau menyarankan agar saya mempertimbangkan Jurusan Aqidah dan Filsafat. Jurusan yang saat itu bahkan belum memakai embel-embel “Islam”. Saya tidak tahu pasti apa yang mendorong saya mengikuti saran itu. Mungkin karena nada suaranya yang tenang atau karena ada misteri dalam nama jurusan itu yang justru menggoda. Tanpa banyak tanya, saya menerima. Dan di situlah semuanya bermula, sebuah langkah kecil yang mengubah seluruh lanskap hidup saya.

Jujur, sebelumnya jurusan ini tidak pernah masuk dalam daftar impian saya. Maka tidak heran, ketika keputusan itu saya umumkan ke orang-orang, respons pun beragam. Ada yang kaget, ada yang menyayangkan, bahkan ada yang terang-terangan bertanya, apa kamu tidak takut jadi sesat? Kalimat itu menghantam saya lebih dalam dari yang saya bayangkan. Seketika saya pun gamang. Apakah saya terlalu gegabah? Apakah saya baru saja mengambil jalan yang salah?

Baca Juga :  Ancaman Kartu Imunitas Sang Wakil Rakyat, Antara Nama Baik Atau Cermin Yang Terlalu Jujur

Dari pertanyaan-pertanyaan menjatuhkan mental itulah justru denyut nadi filsafat mulai terasa dalam diri. Saya mulai mengerti bahwa hidup bukan tentang benar-salah dalam pengertian hitam-putih. Hidup adalah tentang menggali, meraba, memahami dan merefleksi. Dari filsafat, saya belajar bahwa keberanian berpikir berbeda bukanlah kesesatan, melainkan kejujuran pada diri sendiri.

Hari-hari pertama di jurusan ini adalah seperti membuka jendela ke dunia baru. Di ruang-ruang kelas, saya dan teman-teman tidak hanya mempelajari sejarah pemikiran Islam, tapi juga diajak menyelami struktur cara berpikir para pemikir besar sepanjang zaman. Dari epistemologi, saya belajar tentang asal dan batas pengetahuan. Dari ontologi, saya diperkenalkan pada pertanyaan mendasar tentang eksistensi. Dari aksiologi, saya diajak merenungkan nilai dan kebaikan.

Mata kuliah seperti Filsafat Islam, Ilmu Mantiq dan Logika membuka cakrawala baru dalam diri saya. Tapi ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan, perjumpaan pertama saya dengan seorang filsuf besar, Rene Descartes. Kalimatnya yang legendaris, Cogito ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada) menjadi cahaya kecil yang menembus ruang batin saya. Ada kehangatan eksistensial yang saya rasakan saat itu. Seolah-olah untuk pertama kalinya, saya benar-benar diizinkan untuk ada dalam segala keraguan.

Dari sinilah saya sadar bahwa filsafat bukan sekadar tumpukan teori yang tak bernyawa. Ia adalah seni bertanya, seni meragukan, seni menyelami. Ia mengajarkan bahwa iman bukan sekadar warisan yang diterima begitu saja, tapi hasil pergulatan. Dan justru dari pergulatan itulah muncul keyakinan yang matang dan tidak mudah goyah.

Apakah saya pernah menyesal? Pernah ragu? Pernah bertanya, akan jadi apa saya nanti? Tentu saja. Tapi justru dari setiap pertanyaan itu, saya merasa lebih hidup. Karena setiap keraguan melahirkan pemahaman baru. Dan dari setiap pemahaman, tumbuh harapan baru.

Baca Juga :  Polemik Gusnar dan Dambea: Veteran Politik atau Kopral Yang Tidak Selesai Dalam Misi "Perang".

Kini, ketika orang-orang bertanya, lulusan Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam itu bisa jadi apa? Saya jawab dengan yakin: Kami bisa menjadi apa pun. Karena kami tidak hanya mengisi isi kepala, tetapi juga cara berpikir. Kami dilatih untuk membaca, memahami situasi, mengolah nilai, dan mencari makna terdalam. Keahlian semacam ini bisa diterapkan di berbagai bidang pendidikan, media, kebijakan publik, bisnis bahkan teknologi.

Di kampus ini, di IAIN Sultan Amai Gorontalo, terutama di lorong-lorong jurusan yang dulu saya masuki dengan penuh tanda tanya, kini saya melangkah sebagai pengajar. Saya kembali, bukan lagi sebagai mahasiswa yang mencari jawaban, melainkan sebagai pendamping para pencari yang baru. Maka dari itu, saya ingin mengajak kalian para pemuda pencinta kebijaksanaan, para pemikir muda yang gelisah dengan jawaban-jawaban instan untuk bergabung bersama kami. Di jurusan ini, kalian tidak akan diajari untuk menerima begitu saja, tapi justru ditantang untuk bertanya, merenung dan menelisik lebih dalam: Mengapa dunia begini adanya? Apa makna dari hidup? Apa yang benar-benar penting?

Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam di IAIN Sultan Amai Gorontalo kini membuka pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur mandiri. Di sini kalian akan belajar filsafat Barat sekaligus menjelajahi kekayaan pemikir-pemikir Muslim yang membumi dan mendalam. Itulah mengapa mesti kuliah di Jurusan Aqidah Filsafat Islam, karena dunia butuh pemikir bukan hanya pengikut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *