Tajuk, Poota.id – Bagi siapa pun yang berniat memulai hidup sehat dan ingin menjalani diet ketat, satu saran sederhana: jangan lewat Boalemo. Atau kalau pun harus lewat, siapkan mental baja dan ikat perut sekuat tekad. Karena percayalah, di Kabupaten Boalemo, godaan datang bukan hanya dari aroma makanan, tapi dari cara daerah ini memperlakukan kuliner sebagai bagian dari identitasnya.
Bayangkan saja, baru melewati perbatasan Kabupaten Gorontalo dan Boalemo, kita langsung disambut dengan deretan rumah makan yang tampak tak sabar menanti kita berhenti. Beberapa bahkan sudah menyodorkan aroma khas ikan bakar dan rica-rica sejak mobil belum benar-benar berhenti. “Hanya mau lewat,” kata kita dalam hati. Tapi entah kenapa, kaki melangkah sendiri ke dalam warung.
Tak jauh dari situ, tepatnya di lapangan Molombulahe, hadir pasar jajan yang nyaris tak pernah sepi. Tempat itu bukan hanya pusat kuliner, tapi juga tempat nongkrong, tempat berkumpul, tempat “cuma mo ba lia”yang sering berubah jadi “so mo makan saja”.
Dan Tilamuta… ah, kota ini seolah didesain untuk menggagalkan diet siapa pun yang melintas. Baru masuk saja, dua tempat nongkrong langsung menyambut: Cafe Porono dan Dapoer Yayu. Keduanya bukan sekadar tempat ngopi, tapi tempat di mana porsi makanan sering lebih besar dari niat diet yang kita bawa.
Berjalan sejalur dengan Dapoer Yayu, kita bertemu sederet warung makan khas Gorontalo. Mulai dari Milu Siram, makanan tradisional yang nikmatnya kadang bikin lupa janji pada timbangan, hingga berbagai hidangan khas daerah lain. Seperti sebuah parade kuliner yang tak memberi ruang untuk berkata tidak.
Lalu masuk ke kawasan sentra nasi kucing. Si kecil-kecil menggoda yang katanya ringan, tapi ujung-ujungnya makan lima bungkus. Di sana ada Nasi Kuning Cik Devie, Nasi Kucing Ka Ipin, Nasi Ta Wiko, RM. Klaten, dan masih banyak lagi. Dan belum sempat perut mencerna, sudah disambut aroma sate dari RM Musafir, tempat legendaris yang menyajikan sate khas dengan rasa yang susah ditolak, apalagi saat malam hari.
Masih beranjak sedikit, muncul makanan khas Jawa yang namanya saja sudah menggoda: Emut Wae. Dan benar saja, setelah mencicipi sekali, rasanya ingin “emut wae” terus. Tak jauh dari sana, masih banyak lagi tempat makan berjajar hingga perbatasan Boalemo-Pohuwato, seolah ingin memastikan bahwa siapa pun yang berniat diet, akan pulang dengan tekad yang hancur berkeping-keping.
Boalemo bukan cuma kabupaten. Ia adalah medan ujian bagi siapa pun yang mengaku punya prinsip hidup sehat.
Tapi jujur saja, di tengah segala godaan itu, mungkin kita akan sampai pada satu kesimpulan: mungkin bukan dietnya yang salah. Mungkin kita hanya sedang berada di tempat yang terlalu menggoda untuk dilalui dengan perut kosong..
Penulis: Mohammad Syarief Evansyah













