News  

Gamon Dari Pilkada, Itu Manusiawi

Mawan Pakaya

Penulis: Mawan Pakaya

Poota.id – Saya akan berusaha menghibur saudara, kendatipun saya sendiri memang belum bisa melepas diri dari situasi pasca Pilkada kemarin. Gamon kalau istilah anak zaman sekarang. Gamon semacam menjadi identitas baru saya. Belakangan memang sangat sulit mengalihkan ingatan saya dari kerja-kerja politik yang hampir enam bulan saya lalui bersama rekan-rekan juang lainnya. Energi yang banyak terkuras, waktu yang habis terbuang, dan tentu saja ruang-ruang diskusi yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Semuanya seakan mengajak saya untuk bergelut kembali. Lantas tiba-tiba dalam benak semacam muncul mantra sihir yang dari antah berantah.

Dalam ingatan saya ada banyak sekali tampang dan rupa orang-orang yang hampir setip waktu saya temui bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka di lima tahun yang akan datang. Harapan itu ada, tapi bukankah ia hanya akan berlaku semu? Toh harapan di negeri bertasbih itu seiring dengan siapa menjadi pemenangnya mau-takmau akan ditunggangi oleh sekelompok orang yang merasa telah berjasa sepenuhnya atas kemenangan paslonnya. Di sana, politik memang sudah seperti itu; mengokohkan yang menang – menggilas yang kalah. Kelompok pemenang siap-siap akan menguasai semua sektor kepentingan, sementara yang kalah akan berusaha mati-matian untuk, paling tidak keluar dari tekanan atau setidak-tidaknya mampu melihat peluang kecil untuk nimbrung di bawah kaki kekuasaan. Itupun jika diberikan ruang.

Saya tahu persis bagaimana kondisi batin orang-orang seperti saya. Ada semacam ketidakrelaan menerima hasil perolehan suara. Tapi bukankah kerelaan itu jalan menuju keikhlasan yang paripurna? Namun lagi-lagi reaksi ke-gamon-an ini lantas tidak bisa hilang dalam hitungan sehari, dua minggu atau bahkan sebulan lamanya. Alih-alih itu manusiawi. Gamon dari pilkada memang berbeda dari gamon-gamon lainnya. Ia berbeda dengan gamon putus cinta yang mati satu kemungkinan bisa tumbuh seribu. Berbeda dari gamon ditinggal mati oleh orang terkasih yang lepas 40 hari masa berkabung ingatan kita telah buram kepadanya. Gamon dari pilkada akan membutuhkan banyak Kortisol untuk membantu tubuh mempersiapkan diri menghadapi segala bentuk ancaman yang disebabkan oleh ingatan-ingatan beku atas tragedi politik yang dialami. terdengar sangat mengerikan memang. tapi inilah kenyataan yang mesti diterima selama lima tahun yang akan datang.

Baca Juga :  Temuan BPK di Dinkes Bone Bolango Disorot, Dugaan Kerugian Negara Rp254 Juta

Kendati dalam berjalannya waktu kita akan banyak mendengar narasi-narasi penyemangat, tausiah-tausiah untuk tidak berputus asa, bahkan dalil-dalil pembenaran atas situasi yang terjadi. Dan semuanya nyaris dimulai dengan kalimat “harusnya kamu melakukan ini dan itu untuk bisa menang”. Penghiburan memang akan seperti itu bukan? Ia datang setelah kedukaan.

Bersama seorang teman yang ahli dalam menganalisa alam semesta raya ini, saya disarankan untuk kembali menikmati ritus yang sudah lama saya tinggalkan. Saban hari ia menyarankan kepada saya untuk kembali membaca buku. Terutama buku-buku yang bertemakan sastra dan perlawanan. Yang terpenting adalah bagaimana saya kembali fokus mencintai klub sepak bola kebanggaan saya (baca;Juventus) seperti sediakala. Tapi andai saudara tahu, saat sedang menulis ini saya tengah membayangkan seandainya dalam perhelatan pilkada kemarin saya keluar sebagai pemenang dan malamnya saya menyaksikan laga Juventus vs Mancester City yang berakhir dengan kemenangan Juventus itu sendiri. Aduhai, betapa keadaan Gamon ini segera berlalu.

Baca Juga :  FPKG Soroti Dugaan Perjalanan Dinas Fiktif Rp6,9 Miliar di 15 Puskesmas Gorontalo Utara

Harapannya kedepan, bagi saudara-sudara yang bernasib sama seperti saya pasca pilkada kemarin, akan segera kembali normal dalam keberlangsungan hidup sehari-hari. Toh perkara lima tahun yang akan datang tidak lebih dari rotasi pergantian waktu semata. Pagi menjadi siang, siang berlanjut ke malam, malam menembus pagi dan begitu seterusnya. Jatuh bangkit lagi, jatuh berdiri lagi, tidak ada waktu bagi seorang pendekar seperti kita ini untuk bersedih. Yang terpenting dari semua itu, bersediakah kita mengawal apa-apa yang telah dijanjikan oleh mitra politik kita semasa ia berkampanye ria? Tidak harus menjadi oposisi untuk mengawal janji-janji politik mereka, cukup menjadi manusia yang berguna untuk sesama. Itu saja. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *