Opini  

Maulid, Salawati dan Praktek Keseharian Orang Gorontalo

Dr. Funco Tanipu

Poota.id, Opini – Dalam bahasa Gorontalo, sholawat kepada Baginda Nabi biasa disebut dengan salawati. Salawati bukan saja tutur kata, atau ucapan, atau bacaan. Salawati dalam praktek kebudayaan Gorontalo adalah kebiasaan yang hidup dalam semua unsur kehidupan.

Sejak kita lahir, mulai tumbuh rambut, disunat, nikah, ulang tahun, sampai prosesi kematian, Salawati selalu mengiringi proses tersebut.

Secara praktikal, dalam setiap kegiatan harian diatas, biasanya selalu ada “mongadi salawati” (mengaji/membacakan sholawat). Jadi, mongadi bukan saja berarti mengaji, tapi membacakan sholawat adalah juga mengaji bagi orang Gorontalo.

Ulang tahun biasanya disertai dengan mongadi salawati lalu ada hidangan nasi kuning, tiliaya dan lauk pauk, ada ikan ataupun ayam.

Bahkan, saat beli mobil, motor atau sepeda baru, selalu ada mongadi salawati, tujuannya untuk mendapat keselamatan dalam menggunakan kenderaan tersebut. Saat memasuki rumah baru juga hal demikian “wajib” dilakukan oleh orang Gorontalo.

Sehari-hari, jika bertemu orang biasanya bersalaman atau jabat tangan, di Gorontalo bersalaman disebut mosalawatipo/posalawati mola.

Di hari-hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj yang biasa disebut drngan Meeraji, biasanya membaca kitab Meeraji yang didalamnya banyak untaian sholawat. Demikian pula saat 10 Muharram, ada juga bacaan Sholawat. Dan di semua kegiatan hari besar Islam lainnya.

Baca Juga :  Pembangunan Batalyon, Ikhtiar Strategis Menuju Boalemo yang Kuat dan Mandiri

Pada puncaknya, salawati lebih ramai daripada biasanya saat memasuki bulan Maulid, atau tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal yakni hari kelahiran Baginda Nabi. Sebulan penuh biasanya dilantunkan Dikili yang di dalamnya adalah sholawat (salawati). Biasanya di awal dipusatkan di masjid besar Kota/Kabupaten atau Kecamatan/Kelurahan/Desa, setelah itu baru digelar di masjid-masjid se antero Gorontalo.

Dikili saat bulan Maulid dilantunkan sepanjang malam, mulai dari setelah sholat Isya hingga pagi hari. Dikili memakan waktu sekitar 10 – 12 jam dengan pelantun yang cukup banyak. Dikili mengisahkan perjalanan hidup Baginda Nabi.

Jadi, karena ada nama lokalnya, maka tentu saja Salawati telah lama dijadikan tradisi oleh masyarakat Gorontalo. Sejak kapan? Ya sejak dahulu kala. Sejak Islam masuk ke Gorontalo.

Kalau misalnya ada orang Gorontalo yang mengatakan ini “tidak boleh”, ya tentu saja selain mengingkari aspek historis, juga mengabaikan fondasi kultural masyarakat Gorontalo. Salawati dan berbagai ragam kegiatan terkait itu adalah basis spiritual orang Gorontalo. Menihilkannya adalah juga mengingkari leluhurnya yang telah mempraktekkan ini sejak zaman dahulu kala.

Baca Juga :  RUPS BSG DAN REKRUTMEN ELIT GORONTALO

Jadi, bagi orang Gorontalo, merayakan kelahiran Nabi, tidak hanya berhenti pada bulan Maulid saja. Upaya untuk terus “menghidupkan” Nabi dilakukan sehari-hari. Bahwa ada Shalawat dalam bentuk ucapan, ada juga dalam bentuk praktek.

Penulis : Dr. Funco Tanipu – Dosen Universitas Negeri Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *