Papi Celebes dan Wajah Baru KADIN Gorontalo: Ketika “Anak Kemarin Sore” Mengguncang Zona Nyaman Elit

Penulis: Fadli Thalib ( Redaksi Poota)

Poota.id, Tajuk – Ada sesuatu yang menarik dari dinamika Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) di Gorontalo belakangan ini. Bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi ketua, tetapi tentang perubahan wajah sebuah organisasi yang selama ini lebih banyak dikenal di lingkaran tertentu.

Nama Papi Celebes (Andi Rahmatilah), tiba-tiba menjadi bagian penting dalam cerita tersebut.

Papi bukan nama lama dalam percaturan elite Gorontalo. Ia terbilang pendatang baru yang tidak banyak memiliki sejarah panjang dalam jejaring organisasi bisnis di daerah ini. Namun justru dari posisi itulah langkahnya menjadi menarik.

Ia dilantik sebagai Ketua KADIN Kota Gorontalo. Tidak berhenti di sana, Papi juga disebut berada di balik kemenangan Andi Ilham dalam perebutan pucuk pimpinan KADIN Provinsi Gorontalo, mengungguli Fauzan Fadel Muhammad, putra tokoh Politik Gorontalo, Fadel Muhammad.

Jika selama ini KADIN identik dengan nama-nama besar, jejaring pengusaha senior, dan lingkaran elite politik, maka kemunculan Papi menghadirkan cerita berbeda.

Seorang “anak kemarin sore” katanya, tiba-tiba masuk ke ruang yang selama ini dianggap bukan sembarang ruang. Dan yang lebih menarik, ia tidak datang hanya untuk duduk di kursi.

KADIN dan Zona Nyaman Elite

Harus diakui, selama bertahun-tahun KADIN bukan organisasi yang terlalu dekat dengan masyarakat umum. Banyak pelaku usaha kecil bahkan tidak mengetahui secara jelas apa peran KADIN dalam kehidupan ekonomi mereka. Di kalangan anak muda yang mulai terjun ke dunia usaha pun, nama HIPMI sering kali jauh lebih populer dibandingkan KADIN.

Ini menjadi pertanyaan besar. Jika KADIN merupakan rumah besar dunia usaha, mengapa rumah itu terasa jauh dari pelaku UMKM, pengusaha pemula, dan anak-anak muda yang sedang membangun bisnis?

Di sinilah kritik terhadap wajah lama KADIN menjadi relevan. KADIN Gorontalo selama ini kerap dipersepsikan sebagai organisasi yang berputar di lingkaran elite. Bahkan tidak sedikit yang melihatnya terlalu dekat dengan kepentingan politik dan kekuasaan.

Baca Juga :  Ketika Demokrasi Lokal, Diuji Dengan Isu Drama Pemakzulan Ismet Mile

Persepsi tersebut tentu tidak serta-merta menjadi kebenaran. Tetapi persepsi publik tetap penting untuk dijawab oleh sebuah organisasi yang membawa nama dunia usaha. Sebab organisasi bisnis tidak cukup hanya memiliki gedung, struktur kepengurusan dan agenda seremonial.
Ia harus hadir di tengah pelaku usaha.

Ketika Pemilihan Menjadi Pertarungan Pengaruh

Kontestasi KADIN Gorontalo kemudian membuat perhatian publik semakin besar. Munculnya nama Fauzan Fadel Muhammad membuat pertarungan tersebut tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang nama besar Fadel Muhammad.

Fadel bukan orang baru dalam politik dan ekonomi Gorontalo. Karena itu, munculnya dugaan bahwa jaringan elite ikut bermain dalam proses pemilihan menjadi bagian dari perbincangan publik. Ada dugaan adanya intervensi dalam proses pemilihan KADIN, termasuk dugaan keterlibatan kekuatan politik untuk mendorong kandidat tertentu.

Namun semua dugaan tersebut terbalik dengan kemenangan
Andi Ilham. Kemenangan ini memperlihatkan bahwa nama besar, jejaring lama, dan status sebagai bagian dari keluarga tokoh besar tidak otomatis menjadi jaminan kemenangan.

Yang menarik, dibelakang kemenangan tersebut, nama Papi Celebes ikut mencuat. “Anak Kemarin Sore” yang mengubah permainan. Bagi sebagian kalangan, Papi hanyalah “anak kemarin sore”. Tetapi justru istilah itulah yang membuat kisah ini menarik.

Ia datang ketika KADIN Gorontalo membutuhkan wajah baru. Ia masuk ketika publik mulai mempertanyakan relevansi organisasi pengusaha dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Dan ia kemudian terlibat dalam sebuah pertarungan yang mempertemukan jejaring baru dengan jejaring lama.

Apakah Papi seorang pengusaha muda yang sukses? Ya, ia dikenal sebagai trader muda dan memiliki nama di luar Gorontalo. Tetapi popularitas di luar daerah tidak otomatis berarti diterima di Gorontalo.
Karena itu, keberhasilannya masuk ke jantung KADIN Gorontalo bukan sekadar persoalan memenangkan kontestasi organisasi. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pelantikan.

Baca Juga :  Potret Buruk DPRD Boalemo, Tumpul di Hadapan Penguasa, Mandul di Depan Rakyat

Sebab memenangkan pemilihan adalah satu perkara. Memenangkan kepercayaan pelaku usaha Gorontalo adalah perkara yang jauh lebih sulit.

Inilah titik paling penting dari seluruh cerita. Jangan sampai perubahan di KADIN Gorontalo hanya berhenti pada pergantian orang di kursi ketua. Kalau hanya ketuanya yang berganti, sementara pola komunikasi, jaringan, program dan keberpihakan kepada pelaku usaha kecil tetap sama, maka tidak ada yang benar-benar berubah. KADIN harus keluar dari ruang rapat yang hanya dihadiri segelintir pengusaha. Harus turun ke pasar, masuk ke sentra UMKM, mendengarkan pengusaha muda, membuka akses pasar, mendorong kemitraan, membantu pelaku usaha memahami regulasi. Dan yang paling penting, menghadirkan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Gorontalo.

Sebab pelaku UMKM tidak membutuhkan organisasi yang hanya muncul ketika Musyawarah Provinsi atau ketika ada agenda seremoni. Mereka membutuhkan akses, akses modal, pasar, pendampingan, jaringan, teknologi dan kepastian usaha. Jika KADIN mampu melakukan itu, maka perubahan wajah organisasi benar-benar terjadi.

Kini Andi Ilham dan Papi Celebes berada di titik yang menarik sekaligus sulit. Mereka harus membuktikan bahwa kemenangan dalam kontestasi KADIN bukan sekadar kemenangan kelompok tertentu atas kelompok lainnya. KADIN harus menjadi rumah bersama, Bukan rumah kelompok lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *