Daerah  

Bedah Buku “Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah” Picu Antusiasme: Ruangan Penuh, Gagasan Meluap

Suasana penuh energi intelektual mewarnai bedah buku Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah karya Dr. Samsi Pomalingi, MA, yang digelar Rabu (28/5).

Poota.id, Gorontalo — Suasana penuh energi intelektual mewarnai bedah buku Menyingkap Tabir Kebenaran Ahmadiyah karya Dr. Samsi Pomalingi, MA, yang digelar Rabu (28/5), kemarin di Aula Fakultas Syariah dan Hukum, IAIN Sultan Amai Gorontalo. Acara yang diinisiasi Rumah Moderasi Beragama IAIN bekerja sama dengan Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) ini sukses menghadirkan ruang dialog terbuka yang kaya gagasan dan refleksi keagamaan.

Forum ini resmi dibuka oleh Wakil Rektor I IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Dr. H. Sofyan A.P. Kau, M.Ag., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya keberanian akademik dalam mengangkat tema-tema sensitif demi mewujudkan ruang publik yang inklusif dan berkeadaban.

Meski undangan hanya disebar untuk 150 peserta, daftar hadir mencatat 184 orang, belum termasuk yang tidak sempat mengisi absen. Ruangan berkapasitas 200 kursi pun penuh sesak. Para peserta datang dari beragam latar belakang—mahasiswa, dosen, tokoh agama, hingga penyuluh—menunjukkan tingginya animo terhadap isu keberagaman dan minoritas keagamaan.

Acara dipandu langsung oleh Ketua Rumah Moderasi Beragama, Dr. Arfan Nusi, M.Hum., yang piawai menjaga ritme diskusi. Hadir sebagai pembedah buku: Prof. Dr. H. Sofyan A.P. Kau, M.Ag. (Wakil Rektor I), Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag. (Dekan Fakultas Syariah dan Hukum), dan Drs. Mahmud Mubarik, MM. dari PB JAI. Kehadiran penulis buku, Dr. Samsi Pomalingi, turut memperkaya dinamika forum, terutama saat ia mengungkap motivasi personal dan akademik dalam menulis karya tersebut.

Baca Juga :  Aktivis Desak APH Usut Dugaan Korupsi Bansos Rp5 Miliar di Dinsos Gorontalo

“Saya menulis buku ini karena tidak bisa lagi tinggal diam melihat ketimpangan informasi dan perlakuan terhadap Muslim Ahmadiyah,” ungkap Dr. Samsi. Ia menuturkan bahwa pengalaman hidupnya di Manado—daerah yang sarat nilai pluralisme—membangun kepekaan terhadap isu keberagaman dan praktik diskriminatif terhadap komunitas keagamaan yang kerap disalahpahami.

Prof. Sofyan memuji pendekatan penulis yang empatik dan mendalam. “Pak Samsi menulis layaknya seorang insider, meskipun bukan bagian dari Ahmadiyah. Ini langka dan perlu diapresiasi,” ujarnya. Meski demikian, ia memberi catatan bahwa aspek ritual dalam kehidupan komunitas Ahmadiyah belum banyak dikupas.

Sementara itu, Prof. Ahmad Faisal menyampaikan kritik konstruktif. Ia menyoroti kurangnya eksplorasi terhadap partisipasi Ahmadiyah dalam ruang budaya Islam Indonesia seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan forum keagamaan lainnya. “Padahal di sinilah kita bisa melihat bagaimana Ahmadiyah tetap berakar dalam tradisi Islam Nusantara,” ucapnya, sembari menegaskan posisinya, “Saya bukan Ahmadiyah, saya NU.”

Drs. Mahmud Mubarik dari PB JAI melengkapi diskusi dengan pemaparan 20 slide presentasi yang mengupas aspek doktrinal dan teologis Ahmadiyah. Dengan gaya penyampaian yang sistematis, ia menjelaskan bagaimana komunitasnya memahami Islam dan tetap menempatkan diri sebagai bagian dari umat, meski terus menghadapi marginalisasi.

Salah satu daya tarik acara adalah pameran koleksi Al-Qur’an terjemahan dalam 100 bahasa dunia dari perpustakaan Jamaah Ahmadiyah. Koleksi ini menjadi magnet yang membuat peserta bertahan hingga akhir, menelusuri satu per satu kitab suci yang menjadi bukti komitmen Ahmadiyah dalam menjangkau berbagai bangsa dan budaya.

Kegiatan ini menandai langkah penting dalam membangun iklim akademik yang tidak hanya berpihak pada kebenaran ilmiah, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan narasi terhadap kelompok minoritas keagamaan di Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *