Poota.id, Gorontalo – Koordinator Front Pemberantasan Korupsi Gorontalo (FPKG) Fahrul Wahidji soroti anggaran konsumsi reses anggota DPRD provinsi yang capai 4,2 miliar.
Fahrul mengatakan adanya dugaan penggelembungan dana pada penetapan harga satuan makanan yang dinilai jauh diatas hahaha pasaran.
Dari total anggaran yang menyentuh angka Rp4.252.500.000 kata Fahrul, setara dengan Rp58 juta per anggota dewan. Ia menilai angka ini mencerminkan pemborosan anggaran di tengah kondisi masyarakat yang membutuhkan solusi kemiskinan.
“Jika kita kalkulasikan secara jujur menggunakan harga pasar Gorontalo, ada selisih keuntungan berlebih atau potensi pemborosan sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000 pada setiap porsi makanan yang dibagikan,” ujar Fahrul, pada Selasa (2/6/2026).
Fahrul menjelaskan, terdapat tiga poin krusial dalam pagu anggaran konsumsi reses 2025 yang dinilai tidak rasional.
Pertama Makan Berat Prasmanan yang ditetapkan sebesar Rp47.000 per porsi. Padahal, harga normal rumah makan representatif di Gorontalo berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000 untuk menu lengkap.
Kedua Makan Berat Kotak (Dos), pagu yang dianggarkan Rp40.000 per porsi. Angka ini dinilai setara dengan menu hotel atau restoran elit, sementara standar harga pasar lokal untuk nasi kotak massal yang layak hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000.
Dan yang terakhir kata Fahrul, Snack/Kue Kotak yang dianggarkan sebesar Rp14.000 per kotak. Di pasar lokal Gorontalo, satu kotak kue tradisional berisi tiga macam kue beserta air mineral umumnya hanya dihargai Rp7.000 hingga Rp9.000.
Dirinya mengungkapkan bahwa hampir 50% dari harga wajar ini terakumulasi menjadi angka miliaran jika dikalikan dengan ribuan warga yang hadir dalam mobilisasi massa reses.
Fahrul menuntut aparat penegak hukum dan auditor independen untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif terhadap vendor-vendor katering yang ditunjuk oleh DPRD Provinsi Gorontalo.
“Jangan jadikan piring-piring masyarakat sebagai alat untuk menguras anggaran daerah. Rakyat butuh solusi kemiskinan, bukan simulasi makan mewah yang anggarannya diduga digelapkan,” pungkasnya.













