Poota.id, Boalemo – Di tengah upaya pemerintah menekan angka penyakit menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boalemo mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap rendahnya capaian imunisasi rutin lengkap di wilayah setempat. Hingga 30 September 2025, angka imunisasi dasar pada bayi usia 0–11 bulan baru mencapai 58,50 persen, jauh di bawah target nasional 95 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Kepala Dinas Kesehatan Boalemo, Sutriyani Lumula, yang menilai rendahnya minat masyarakat untuk membawa anaknya imunisasi dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi mendatang.
“Satu suntikan bisa menyelamatkan masa depan anak. Jangan tunggu sakit baru sadar pentingnya imunisasi,” tegas Sutriyani Lumula.
“Imunisasi bukan sekadar program pemerintah, tetapi bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak agar terlindung dari penyakit berbahaya seperti campak, polio, dan difteri,” sambungnya.
Data Capaian Imunisasi Boalemo Masih Jauh dari Target
Berdasarkan laporan Dinkes Boalemo, dari 2.800 bayi sasaran, baru 1.638 anak yang menerima imunisasi dasar lengkap. Untuk kelompok usia 18–23 bulan, capaian imunisasi lanjutan baru mencapai 58,19 persen.

Perbandingan antar puskesmas juga menunjukkan ketimpangan signifikan.
PKM Saritani mencatat capaian tertinggi dengan 64,89%, sementara PKM Bongo II menjadi yang terendah dengan 55,19%.

Untuk imunisasi balita (BADUTA), PKM Pangi mencatat 68,63%, sedangkan PKM Berlian hanya 38,82%.
Ketua Tim Kerja Imunisasi Dinas Kesehatan Boalemo, Ketut Arthayana, menyebut salah satu penyebab rendahnya capaian imunisasi adalah kurangnya kesadaran masyarakat dan masih kuatnya pengaruh hoaks tentang vaksin.
“Masih ada masyarakat yang menolak imunisasi karena termakan isu hoaks. Padahal imunisasi aman, halal, dan sudah terbukti menyelamatkan jutaan anak di Indonesia,” ujar Ketut.
“Kami butuh dukungan lintas sektor, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan media agar pesan positif tentang imunisasi bisa menjangkau seluruh lapisan warga,” tambahnya.
Ancaman Campak Mengintai: 42 Kasus Suspek di Boalemo
Rendahnya cakupan imunisasi membuat Boalemo kini menghadapi ancaman serius kejadian luar biasa (KLB) campak. Berdasarkan data surveilans epidemiologi, terdapat 42 kasus suspek campak yang tersebar di beberapa wilayah kerja puskesmas.
- Puskesmas Mananggu: 31 kasus
- Botumoito: 2 kasus
- Tilamuta: 2 kasus
- Dulupi: 1 kasus
- Pangi: 3 kasus
- Bongo Nol: 2 kasus (terkonfirmasi positif berdasarkan uji laboratorium)
- Bongo II: 1 kasus
Kendati hasil laboratorium dari 8 sampel awal menunjukkan tidak ada kasus positif campak tambahan, Dinkes Boalemo menegaskan bahwa status kewaspadaan tetap tinggi karena penyebaran virus sangat cepat dan mudah menular.
“Campak bukan penyakit ringan. Bisa sebabkan radang paru-paru, radang otak, bahkan kematian pada anak yang kekebalannya rendah,” jelas Sutriyani Lumula.
“Kunci pencegahan adalah cakupan imunisasi tinggi dan merata. Jika semua anak diimunisasi, penyebaran campak bisa dihentikan melalui herd immunity,” pungkasnya.













