Poota.id, Gorontalo – Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Andalan XVII 2026 di Provinsi Gorontalo dinilai menjadi momentum emas yang membawa dampak bagi perekonomian daerah. Kehadiran ribuan peserta dari seluruh penjuru Nusantara tidak hanya memperkuat sektor pangan, tetapi juga mendorong kebangkitan koperasi dan pelaku usaha lokal.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pemuda Bone Bolango sekaligus Sekretaris Koperasi Gambuta Mining Niaga, Syarlan Kiayi. Menurutnya, PENAS XVII yang berpusat di GOR David-Tonny, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, memiliki makna strategis yang melampaui sekadar acara seremonial lima tahunan.
Syarlan mengungkapkan bahwa PENAS XVII menjadi wadah krusial untuk mempertemukan tradisi, teknologi, dan masa depan sektor agraris-maritim Indonesia.
Diikuti oleh lebih dari 8.700 peserta, ajang yang dijuluki “KTT Petani Nelayan” ini berfokus pada penguatan kedaulatan pangan nasional melalui tiga pilar utama: gelar teknologi inovatif, temu wicara kebijakan, dan kemitraan bisnis global.
”Bagi kami di Koperasi Gambuta Mining Niaga dan seluruh masyarakat Gorontalo, PENAS XVII punya makna lebih dari sekadar pesta rakyat. Ini soal kedaulatan pangan, ekonomi daerah, dan wajah Gorontalo di kancah nasional,” ujar Syarlan, pada Rabu (24/6/2025).
Ia menambahkan, melalui ajang ini, para petani dan nelayan lokal dapat menyerap perkembangan ilmu pengetahuan baru untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan disrupsi pasar.
Lebih lanjut, Syarlan membeberkan keuntungan besar yang diperoleh Gorontalo sebagai tuan rumah pelaksanaan PENAS XVII 2026 meliputi perputaran ekonomi selama event berlangsung ditaksir mencapai ratusan bahkan miliyar an rupiah yang mengalir langsung ke sektor perhotelan, UMKM kuliner, transportasi, hingga perajin suvenir.
Menjadi ruang belajar terbuka bagi penyuluh dan petani lokal dalam mengadopsi inovasi seperti drone pertanian dan sistem irigasi pintar.
Menjadi panggung nasional untuk memperkenalkan potensi bumi Gorontalo seperti jagung, pala, porang, dan tuna. Perbaikan fasilitas publik, jalan, dan venue di kawasan Limboto memberikan aset jangka panjang bagi warga. Dan Kehadiran ribuan tamu menjadi sarana promosi gratis bagi kekayaan seni budaya dan keramahan “Bumi Serambi Madinah”.
Sebagai keterwakilan pemuda dan pengurus koperasi, Syarlan optimistis efek positif dari PENAS XVII ini akan terus dirasakan hingga 5 hingga 10 tahun ke depan. Event ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa modernisasi sektor agraris bisa berjalan selaras dengan penguatan ekonomi kerakyatan.













