Hai, kamu. Iya, kamu yang lagi baca ini sambil rebahan, entah di kasur, sofa, lantai, atau mungkin bahkan di tangga (kalau iya, tolong, itu kurang nyaman).
Pertama-tama, terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Di dunia yang sibuk, penuh target, penuh notifikasi WhatsApp dan e-mail, kamu memilih untuk… istirahat. Dan itu keren.
Banyak orang mengira kaum rebahan itu malas. Padahal, siapa lagi yang menjaga keseimbangan dunia kalau bukan kamu? Saat semua orang sibuk berlomba-lomba posting “produktif” di Instagram, kamu justru mengajarkan kita bahwa hidup bukan melulu soal ngebut, tapi juga tahu kapan harus rem tangan.
Kalau ada lomba berpikir sambil tiduran, kamu juaranya. Dari atas kasur, kamu bisa membayangkan rencana masa depan, memikirkan teori dunia paralel, atau sekadar bertanya, “Kalau kucing jatuh, apa dia refleks duluan atau pasrah?” Filosofis sekali, kan?
Kaum rebahan itu pejuang. Pejuang melawan rasa malas yang… kadang memang dimenangkan rasa malasnya sih, tapi itu bagian dari perjuangan, kan? Setidaknya kamu mencoba.
Dan kalau ada yang bilang hidupmu kurang berarti, kasih tahu aja: “Aku menghemat energi buat menyelamatkan bumi.” Karena jujur aja, makin banyak orang rebahan, makin sedikit kendaraan di jalan, makin sedikit polusi. See? Kamu pahlawan tanpa tanda jasa.
Oh iya, rebahan juga nggak berarti kamu berhenti bermimpi. Justru kadang ide-ide paling cemerlang lahir saat kamu setengah tidur, setengah mikirin kenapa remote TV suka hilang di sela-sela bantal.
Jadi, untukmu kaum rebahan: Teruslah bermimpi. Teruslah istirahat dengan penuh passion. Dan kalau nanti waktunya tiba, ketika panggilan hati berbunyi untuk bangkit (mungkin karena lapar atau flash sale) kamu akan siap.
Sampai saat itu, nikmati rebahanmu. Dunia ini sudah cukup berat tanpa kamu merasa bersalah karena sekadar ingin… diam sebentar.
Peluk jauh, Seseorang yang juga rebahan sambil baca surat ini.













