Tautan Tanpa Tanda

Poota.id – Dulu, Sulu dan Sinta saling mencintai. Dalam,..dalam sekali. Cinta mereka seperti rahasia yang hanya mereka dan langit malam yang tahu. Saling mencintai dengan cara paling jujur, paling diam-diam, paling menyakitkan. Tapi dunia, seperti biasa, tidak selalu berpihak pada dua hati yang ingin bersatu.

Orang tua mereka tak sepakat. Lingkungan dan adat tak memberi ruang. Dan perlahan-lahan, cinta mereka mulai kehabisan tempat untuk tumbuh.

Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada pengkhianatan. Hanya kenyataan yang perlahan memisahkan. Lalu mereka memilih untuk menjauh. Bukan karena ingin, tapi karena harus.Tak pernah ada malam bersatu. Tak pernah ada pelarian diam-diam atau janji di bawah langit. Mereka melepaskan tanpa menyentuh, menyimpan cinta itu seperti rahasia yang hanya bisa dipeluk dalam doa. Dan berjalan ke kehidupan masing-masing.

Bertahun-tahun berlalu……, Sulu menikah. Sinta pun begitu. Mereka menjalani hidup yang biasa saja, membangun keluarga, membesarkan anak, sambil diam-diam membawa sepotong luka dari masa lalu.

Sulu memiliki seorang putra bernama Jey. Anak yang lincah, cerdas, dan sedikit keras kepala. Sinta pun memiliki putra yang tak jauh berbeda, Balo. Dia tenang, setia, dan penuh rasa ingin tahu.

Baca Juga :  Ketika Dewan Jadi Makelar: Boalemo dalam Cengkeraman Pengkhianat Rakyat

Tanpa pernah tahu masa lalu orang tua mereka, Jey dan Balo tumbuh di lingkungan yang sama, sekolah yang sama, kelas yang sama. Keduanya jadi kawan tak terpisahkan. Dua anak laki-laki yang seolah diciptakan untuk saling menjaga. Mereka menyebut diri mereka bersaudara, meski tidak satu darah. Mereka selalu bersama dalam tawa, dalam luka, dalam harapan bocah yang belum tahu pahitnya hidup.

Lalu datanglah hari itu. Sebuah acara sekolah, pertemuan orang tua murid. Sulu datang lebih awal. Ia melihat Jey tertawa bersama Balo di pojok taman. Hati ayahnya hangat. Tapi senyum itu menghilang seketika ketika matanya menangkap sosok perempuan yang berdiri di belakang Balo… Ya, itu Sinta.

Ia diam. Dunia berhenti berputar untuk sesaat. Waktu seolah kembali ke masa itu. Wajah itu, wajah yang pernah ia jaga dalam ingatan, wajah yang pernah ia doakan setiap malam, kini berdiri di hadapannya, dengan mata yang masih menyimpan cerita yang sama.Sinta pun menatapnya. Tak ada kata. Tapi dari pandangan itu, keduanya tahu: cinta itu belum mati.

Hanya dikubur dalam-dalam. Dan di tengah dua pasang mata yang saling mengenang, dua anak mereka tertawa lepas. Tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa orang tua mereka dulu pernah saling mencintai begitu dalam, namun tak pernah diberi kesempatan untuk bersama.

Baca Juga :  Ironi Pilkada Boalemo Berujung Intimidasi, Bibit Premanisme Mulai Tumbuh?

Malamnya, Sulu termenung di beranda rumah. Di tangan kirinya, secangkir kopi buatan istri yang karena terlalu lama tak disentuh menjadi dingin. Di tangan kanan, tak ada apa-apa, seperti hidupnya sekarang, kosong di sisi itu. Ia bergumam lirih, seperti kepada dirinya sendiri: “Seandainya waktu sedikit lebih ramah…” Tapi waktu tak pernah bisa diajak kompromi.

Dan cinta yang tak sempat menjadi nyata, hanya bisa hidup di dalam ingatan… atau dalam tawa dua anak lelaki yang bahkan tak tahu bahwa mereka sedang melanjutkan kisah yang dulu tak sempat selesai.

Bersambung………..

Penulis: Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *