Tautan Tanpa Tanda: Part 2

Tajuk, Poota.id – Setelah pertemuan itu, malam-malam Sulu tak lagi tenang. Setiap kali Jey pulang dari sekolah dan bercerita tentang Balo, tentang bagaimana mereka berdua membentuk tim futsal, tentang bagaimana Balo menolongnya dari ejekan teman.

Hati Sulu bergetar pelan. Bukan karena cemburu, bukan juga marah, tapi ada sesuatu yang mengendap. Sesuatu yang lama dipendam dan kini kembali ke permukaan: kenangan.

Di sisi lain, Sinta pun tak bisa menipu dirinya. Senyuman Balo, caranya tertawa, kadang membuat dadanya sesak. Karena di tawa itu, ia seperti melihat bayang-bayang Sulu di masa muda. Mata Balo begitu mirip. Dan kini, tiap kali ia mendengar nama “Jey” dari mulut anaknya, ia merasa waktu sedang mengolok-oloknya. Nama itu terlalu dekat, terlalu menyakitkan.

Suatu hari, Balo dan Jey pulang bersama. Hari itu hujan deras. Mereka berdua basah kuyup, tapi tertawa keras-keras sambil membawa satu buku gambar besar yang baru saja mereka menangkan dalam lomba menggambar. Ketika Sinta membuka pintu dan melihat Jey berdiri di samping Balo, ia membeku.

Baca Juga :  Ketika Negara Menghapus Hutang: Harapan Baru untuk Petani dan Nelayan

Jey tersenyum sopan. “Halo Tante, saya Jey,” katanya, menjulurkan tangan.

Sinta menjabatnya, tangan dingin, dada panas. Dunia kembali berputar. Nama itu. Senyum itu. Ada Sulu di situ. Ada masa lalu yang tak sempat jadi kenyataan.

Sinta mengangguk pelan, menahan napas.

“Masuk Jey. Ndak papa basah, nanti tante bikinkan minuman panas.”

Hari itu, Sinta memandang Jey diam-diam dari dapur. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia menangis dalam diam. Air mata jatuh ke atas sendok yang ia pegang. Ia tak tahu mengapa, tapi rasanya seperti membuka luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Malam harinya, ia mengambil sebuah kotak dari lemari tua. Di dalamnya ada surat yang tak pernah ia kirim. Surat yang ditulisnya untuk Sulu, bertahun-tahun lalu. Ia baca kembali, kata demi kata, dan di akhir surat itu tertulis:

Baca Juga :  Luka Yang Tak Pernah Diminta

“Kalau suatu hari kita dipertemukan kembali… semoga bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk saling mengikhlaskan.”

Namun kenyataannya, mereka tidak saling mengikhlaskan. Tidak benar-benar. Hati mereka masih saling menoleh ke masa lalu, meski langkah mereka sudah terpisah jauh ke depan.

Bersambung……..

Penulis: Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *