Tajuk, Poota.id – Namanya Arsy. Dan malam itu, seperti malam-malam lainnya, ia menatap layar ponselnya, menunggu sesuatu yang tak pasti dari seorang perempuan yang sudah ia kenal hampir dari separuh hidupnya.
Namanya Dira. Teman semasa sekolah. Teman yang dulu kerap ia temui saat jam istirahat, saat tugas kelompok, saat diam-diam mereka saling tahu tapi pura-pura tidak. Kini, keduanya telah dewasa, sama-sama punya hubungan, sama-sama belajar mencintai orang lain. Tapi entah kenapa, yang selalu membuat Arsy terjaga di malam hari tetap Dira.
Tak ada yang salah dengan hubungan mereka. Keduanya masih bisa bercanda, bertukar kabar, menyelipkan “semangat” di sela obrolan basa-basi. Tapi yang Arsy tahu, sejak Dira disakiti oleh seseorang yang dulu ia cintai sepenuh hati, cara dia menatap dunia berubah. Dira jadi lebih diam. Lebih berhati-hati. Lebih kaku pada perasaan, seolah takut perasaan itu akan kembali menghancurkannya.
“Kenapa kamu selalu tahu saat aku lagi nggak baik-baik saja?” tanya Dira suatu malam, ketika ia akhirnya membuka pesan Arsy.
“Karena aku pernah duduk di bangku yang sama dengan kamu. Aku tahu kamu bahkan sebelum kamu belajar menyembunyikan air mata,” jawab Arsy.
Dira tidak membalas. Tapi Arsy tahu, di balik sunyi itu, ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Ia tahu Dira belum selesai berdamai dengan luka. Dan yang lebih menyakitkan, ia tahu ia hanya teman. Teman lama. Yang tidak pernah datang untuk mencintai, hanya untuk tinggal.
Arsy tahu, mencoba menyembuhkan seseorang yang sedang mencintai orang lain adalah bentuk paling nekat dari cinta diam-diam. Tapi ia tetap tinggal. Karena dalam pikirannya, jika ia bisa membantu Dira sembuh, meski bukan untuk dirinya, maka itu sudah cukup.
Luka yang tidak ia buat, tapi ingin ia obati. Cinta yang tidak bisa ia miliki, tapi ingin ia jaga. Malam itu, Dira menulis pesan pendek:
“Aku takut kalau aku sembuh, kamu yang akan patah.”
Dan Arsy mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi. Akhirnya ia hanya menulis:
“Kalau itu harganya, aku rela. Karena bukan tentang aku, Dir. Tapi tentang kamu yang akhirnya bisa bahagia lagi.”
Ada jeda panjang sebelum akhirnya Dira menutup percakapan dengan satu kata:
“Terima kasih.”
Dan Arsy tahu, itu mungkin cukup. Atau mungkin tidak. Tapi begitulah cinta yang tak pernah diminta: kadang hanya ingin menjadi jeda di tengah luka, bukan titik akhir yang bahagia. (MSE)
Bersambung……….













