Poota.id, Boalemo – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo, Sutriyani Lumula, mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan penyakit Tuberkulosis (TBC). Meski pengobatannya sudah tersedia dan gratis di seluruh fasilitas kesehatan, masih banyak warga yang belum melakukan pemeriksaan dini karena takut, malu, atau khawatir terkena stigma sosial, Sabtu (18/10/2025).
“TBC ini masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, termasuk di Indonesia. Padahal, kalau ditangani dengan benar, TBC bisa disembuhkan total,” ujar Sutriyani Lumula.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Banyak pasien yang menunda datang ke puskesmas karena takut dengan proses pengobatan atau takut dikucilkan lingkungan sekitar.
“Kalau TBC tidak diobati, dampaknya sangat berbahaya. Bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa merusak paru-paru secara bertahap, menyebabkan batuk darah, nyeri dada, dan berat badan menurun drastis. Dalam kasus berat, paru bisa rusak permanen dan menyebabkan gagal napas,” jelasnya.
Sutriyani menambahkan, jika dibiarkan tanpa pengobatan, TBC juga bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti tulang, ginjal, otak, dan tulang belakang. Kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstraparu, dan komplikasinya jauh lebih berisiko.
“Kasus TBC di tulang belakang bisa menyebabkan kelumpuhan, sedangkan kalau menyerang otak bisa menyebabkan meningitis TBC yang bisa berakibat fatal,” kata Sutriyani.
Selain membahayakan penderitanya, TBC yang tidak diobati juga memperbesar risiko penularan kepada orang lain. Penyakit ini menular lewat udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.
“Diperkirakan satu orang penderita TBC aktif yang tidak diobati bisa menularkan bakteri ke 10 hingga 15 orang lain dalam setahun. Ini berbahaya sekali, terutama kalau sampai muncul jenis TBC yang kebal obat,” terang Kadinkes Boalemo itu.
Melalui berbagai program seperti Gerakan TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh), Dinas Kesehatan Boalemo terus mendorong masyarakat untuk aktif melakukan deteksi dini dan menjalani pengobatan sampai tuntas.
“Semua layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC tersedia di puskesmas dan rumah sakit daerah tanpa biaya. Petugas kami siap membantu, termasuk memberikan pendampingan selama masa pengobatan,” tegas Sutriyani Lumula.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, nyeri dada, demam ringan, atau berat badan turun drastis.
“Semakin cepat dideteksi, semakin besar peluang sembuh total. Jangan tunggu parah dulu baru periksa,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Boalemo, lanjut Sutriyani, berkomitmen mendukung target nasional Eliminasi TBC pada tahun 2030 melalui penguatan program kesehatan masyarakat, edukasi rutin, dan pelibatan lintas sektor.
“Penanganan TBC bukan cuma tanggung jawab tenaga kesehatan, tapi juga masyarakat. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting agar pasien bisa menjalani pengobatan dengan disiplin sampai sembuh,” pungkasnya.













