Opini  

LUKA DI DUNIA AKADEMIK

Ilustrasi
Oleh: Moh. Zulkifli Paputungan (Dosen IAIN Sultan Amai)

Poota.id, Opini – Saya ingin bicara tentang satu hal, yaitu bullying antardosen.
Ya, bullying, kata yang berkaitan dengan anak sekolah, ternyata punya tempat di kampus. Bedanya, di sini pelakunya bukan anak-anak, justru orang dewasa yang bergelar panjang. Ironis? Jelas. Memuakkan? Lebih dari itu.

Saya sering mendengar: Ah, di kampus itu tempat orang cerdas, tidak mungkin ada kekerasan.
Tapi saya mau bilang begini, kecerdasan tidak menjamin keadaban. Banyak orang pintar yang gagal menjadi manusia. Malah jadi serigala. Seperti kata orang tempo dulu, lupa saya nama orangnya yang bilang manusia adalah serigala bagi manusia lain. Yang jelas pernah saya membaca kata kata itu….

Terus masalahnya di mana? Ya itu, masalahnya di relasi kuasa yang menyesakkan. Di kampus, kekuasaan punya banyak wajah. Kadang muncul dalam bentuk jabatan. Kadang menjelma jadi kultur. Kadang lebih halus, berbentuk pengaruh, kedekatan dengan Rekto-Dekan atau geng-geng kecil yang menentukan siapa yang layak diundang dan siapa yang pantas ditendang.

Saya menyebut ini luka di dunia akademik. Luka yang tidak berdarah.

Saya tidak tahu sejak kapan kampus berubah jadi arena kekuasaan. Tempat yang seharusnya rumah ilmu, pelan-pelan bergeser jadi arena pembuktian ego. Ada dosen yang disindir di depan mahasiswa hanya karena berbeda pandangan. Ada nama yang dihapus dari tim riset tanpa alasan.
Ada kolega yang sengaja diasingkan dari grup WhatsApp, diperlakukan seolah tak ada. Semua itu dilakukan oleh orang-orang yang kita panggil rekan sejawat.

Saya tidak sedang berlebihan. Bahkan riset-riset akademik sudah lama mencatat ini. Olweus mislanya, menyebut: Tindakan agresif yang muncul karena ketidakseimbangan kekuasaan. Lalu pendapat Keashly dan Neuman menamai gejala ini academic mobbing, kekerasan psikologis yang dilakukan secara sistematis oleh sekelompok orang terhadap satu individu.

Baca Juga :  Konflik di Pucuk Pimpinan, Ketika Bone Bolango Unggul Terganjal Perebutan Jatah Proyek

Tapi saya tidak mau bersembunyi di balik teori. Saya ingin bilang, ini hampir terjadi di seluruh kampus di muka bumi. Kadang kampus lebih kejam dari dunia luar. Karena di kampus, kekerasan tidak datang dengan bentakan, malahan datang dengan senyum palsu.

Lihatlah kasus-kasus yang sudah terjadi. Di Jawa Tengah, seorang dosen perempuan dipermalukan di depan mahasiswa, dibilang tidak kompeten. Di Inggris, seorang dosen dihapus namanya dari penelitian. Di Australia, dosen-dosen diumumkan sebagai beban institusi karena gagal memenuhi target publikasi. Lucunya, semua pelaku selalu punya alasan akademik. Demi kualitas, demi standar ilmiah, demi profesionalisme. Padahal kalau mau jujur, itu cuma topeng untuk menyembunyikan arogansi.

Saya ingin tertawa, tapi rasanya getir. Bagaimana bisa kampus yang mengajarkan etika justru abai pada etika antarpendidik? Bagaimana bisa institusi yang mengajarkan moral justru memelihara ketakutan di antara dosennya sendiri?

Saya pernah melihat seorang dosen muda yang semangatnya runtuh. Dulu dia rajin mengajar, aktif riset. Tapi setelah beberapa kali disindir dia berubah. Dia datang ke kampus seperti orang asing, hanya menunggu jam pulang.

Itu bukan kasus tunggal. Banyak dosen di negeri ini bekerja dengan tubuh hadir tapi jiwa hilang.

Masalah utamanya ada pada sistem yang permisif dan budaya stagnan.
Kita terlalu sopan untuk menegur yang salah, terlalu takut untuk berbeda, terlalu sibuk untuk peduli. Itulah mengapa bullying mendapatkan tempat, karena lingkungan membiarkannya.

Saya suka teori Urie Bronfenbrenner tentang ecological systems. Dia bilang, perilaku manusia dibentuk oleh lingkungannya. Artinya, kalau kampus memelihara budaya hierarkis, maka kekerasan akan muncul seperti lumut di dinding lembab.

Saya ingin kampus punya kode etik komunikasi akademik, semata untuk melindungi martabat.
Agar kita tahu batas antara kritik dan penghinaan. Karena tidak semua kejujuran harus disampaikan dengan kekerasan. Dan tidak semua perbedaan pantas dijadikan bahan olok-olok.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi DPRD Boalemo: Integritas yang Tergadai, atau Sekadar Sandiwara Hukum?

Saya tidak percaya perubahan bisa datang dari sanksi administratif. Orang tidak berubah karena takut. Orang berubah karena sadar. Kampus harus mulai dari hal hal kecil. Ajarkan empati kepada dosen senior. Ajarkan keberanian kepada dosen junior. Ajarkan kejujuran kepada pimpinan.

Tolong, buatlah ruang konseling yang manusiawi. Karena banyak dosen yang luka tapi tak tahu harus mengadu ke siapa. Mereka tidak butuh belas kasihan, mereka hanya butuh ruang aman untuk sembuh. Saya tahu ini terdengar idealis, tapi tanpa idealisme, dunia akademik cuma jadi pabrik gelar. Padahal sejatinya, kampus tempat membangun peradaban.

Terakhir, saya tidak menulis ini untuk menuding siapa-siapa. Saya menulis ini karena saya mencintai dunia akademik. Saya ingin kampus kembali jadi rumah ilmu bukan saling menjatuhkan. Kalau memang kita percaya pada ilmu, mari kita mulai dari satu hal, perlakukan kolega sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Karena tidak ada ilmu yang lahir di tanah ketakutan. Pun demikian, ilmu sejati hanya lahir di tanah yang subur oleh hormat dan empati. Dan kalau suatu hari dunia akademik kembali beradab, mungkin luka itu akhirnya bisa sembuh. Hanya bisa berharap…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *