Poota.id, Boalemo – Program revitalisasi sekolah di Kabupaten Boalemo kini terancam tidak berjalan sesuai target waktu. Penyebabnya bukan pada pihak sekolah, melainkan lambannya pelayanan Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu (KCP) Tilamuta yang tidak mampu menyediakan uang tunai untuk pencairan dana proyek.
Sejumlah sekolah penerima program mengeluhkan pencairan uang muka sebesar 70% yang sudah masuk ke rekening, namun tidak dapat diambil secara tunai. Padahal, pencairan ini merupakan syarat vital agar pekerjaan revitalisasi segera dimulai.
“Bagaimana sekolah bisa memulai pekerjaan kalau uang muka saja tidak bisa dicairkan? Keterlambatan ini jelas menghambat, apalagi waktunya sangat terbatas,” ujar salah satu kepala sekolah penerima program yang enggan disebutkan namanya.
Kementerian Pendidikan hanya memberikan waktu tiga bulan untuk menyelesaikan revitalisasi. Jika pencairan terus tertunda, proyek berpotensi tidak selesai tepat waktu bahkan dana bisa kembali ke pusat. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan kepala sekolah dan masyarakat yang berharap fasilitas pendidikan segera diperbaiki.
Situasi di Boalemo ini memicu pertanyaan besar, bagaimana mungkin Bank Mandiri KCP Tilamuta kesulitan melayani pencairan program pendidikan, sementara pemerintah pusat melalui Menteri Keuangan baru saja mengucurkan anggaran besar Rp200 triliun ke bank-bank BUMN. Dana ini dimaksudkan sebagai stimulus likuiditas dan penguatan peran bank milik negara dalam mendukung program pembangunan.
Tujuan utama suntikan dana tersebut, menurut Menkeu, adalah agar bank BUMN bisa mempercepat penyaluran kredit produktif, mendukung proyek pemerintah, dan menjaga kepercayaan publik terhadap perbankan nasional. Namun kenyataan di lapangan, kasus Boalemo justru memperlihatkan kesenjangan antara kebijakan pusat dan pelayanan di daerah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bank Mandiri KCP Tilamuta belum memberikan klarifikasi resmi terkait lambannya pencairan dana tersebut.













