Poota.id, Boalemo – Suara kritis kembali menggema dari organisasi dan pemerhati lingkungan di Kabupaten Boalemo. Mereka melayangkan peringatan keras kepada Pemerintah Daerah agar tidak terlena dengan agenda politik maupun proyek seremonial semata. Pasalnya, persoalan lingkungan khususnya sampah di wilayah pesisir Boalemo kian hari makin parah bahkan nyaris tak terurus.
Rizal Musa, salah satu pemerhati lingkungan Boalemo, menegaskan bahwa perhatian pemerintah daerah tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur semu. Menurutnya, persoalan sampah di tiga wilayah pesisir yakni Pentadu Barat, Pentadu Timur, dan Bajo sudah mencapai titik darurat.
“Persentase timbunan sampah di Boalemo setiap tahun meningkat, dan yang paling parah terjadi di pesisir. Sayangnya wilayah seperti Pentadu Barat, Pentadu Timur, dan Bajo seakan dibiarkan hidup dalam tumpukan sampah. Pemerintah jangan pura-pura buta. Kami mendorong agar Bupati segera memanggil kepala desa di tiga wilayah ini, lalu mencarikan solusi yang cepat dan konkret,” tegas Rizal.
Nada serupa disampaikan oleh Ais, Ketua KPA Cemara. Ia menyindir keras kinerja Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Boalemo yang dianggap masih setengah hati dalam menghadapi masalah sampah pesisir.
“DLHK harus berhenti jadi tukang stempel proyek kertas. Turun ke lapangan, lihat sendiri bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan gunungan sampah. Kalau DLHK tidak serius, lama-lama pesisir kita berubah jadi museum sampah terbuka,” sindir Ais.
Komunitas pecinta alam menilai, kondisi ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan sudah mengancam kesehatan masyarakat pesisir Boalemo. Laut yang tercemar menyebabkan ikan berkurang, dan mata pencaharian nelayan pun terganggu. Ironisnya, pemerintah daerah dinilai abai dan belum merancang strategi nyata penanganan sampah.
Menurut mereka, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab penuh. Anggaran ada di tangan mereka, kewenangan juga di tangan mereka. Namun yang sering disalahkan justru masyarakat. Padahal, fasilitas pengelolaan sampah minim, TPS jarang tersedia, dan jumlah truk sampah masih sangat terbatas.
Pemerhati lingkungan menegaskan, sudah saatnya Bupati Boalemo memasukkan persoalan sampah pesisir ke dalam kerja strategis Pemda. Isu sampah bukanlah masalah pinggiran, tetapi masalah utama yang menyangkut kesehatan masyarakat, keberlangsungan ekosistem laut, hingga masa depan generasi muda Boalemo.
“Kalau stunting jadi prioritas, mestinya sampah juga masuk. Jangan sampai kita sibuk urus perut anak-anak, tapi lupa paru-paru laut yang sudah sekarat,” tutup Rizal.(*)













