Poota.id, Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus angka Rp 16.860/US$, hal ini tidak menyebabkan pembengkakan signifikan pada belanja subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (9/4/2025).
Sri Mulyani menjelaskan bahwa meskipun dalam APBN 2025 asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS dipatok pada angka Rp 16.000/US$, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah yang lebih tinggi, yaitu US$ 82/barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga acuan minyak mentah dunia saat ini, seperti Brent yang berada di kisaran US$ 64 hingga US$ 65/barel.
Menurutnya, harga minyak mentah dunia yang kini berada di level sekitar US$ 64-65/barel memberi ruang bagi pemerintah untuk menurunkan subsidi energi. Dalam hal ini, subsidi energi diperkirakan tidak akan membengkak seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Hingga Maret 2025, realisasi belanja subsidi energi dan kompensasi telah mencapai Rp 32 triliun, atau naik 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total anggaran tersebut, Rp 32,2 triliun digunakan untuk subsidi energi, sedangkan Rp 183,9 miliar untuk subsidi non-energi.
Adapun rincian subsidi energi yang telah disalurkan adalah untuk bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 2,90 juta kiloliter, yang mengalami kenaikan 3,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, untuk LPG 3 Kg, pemerintah telah menyalurkan 1,36 miliar kg, atau naik 2,9%. Subsidi listrik juga telah mencakup 41,9 juta pelanggan, atau naik 4,2% dibandingkan dengan tahun lalu.
Sementara itu, subsidi pupuk tercatat sudah disalurkan sebanyak 1,7 juta ton, naik 27,7% dibandingkan dengan 1,3 juta ton pada akhir Maret 2024.
Dalam hal defisit anggaran, Sri Mulyani melaporkan bahwa defisit APBN per Maret 2025 tercatat sebesar Rp 104,2 triliun, atau sekitar 0,43% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut sudah mencapai 16,9% dari target defisit tahun 2025 yang diperkirakan sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53% dari PDB.
Pendapatan negara hingga Maret 2025 tercatat sebesar Rp 516,1 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp 620,3 triliun. Dari sisi penerimaan, Penerimaan Perpajakan tercatat Rp 400,1 triliun, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 115,9 triliun.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam hal nilai tukar dan harga minyak, pemerintah berkomitmen untuk menjaga keseimbangan fiskal dengan memastikan belanja subsidi tetap terkendali dan APBN 2025 tetap berjalan sesuai dengan target.













