Oleh: Dimas Bobihu (Putra Daerah dan Aktivis Boalemo)
Poota.id, Opini – Di tengah geliat pendidikan di Gorontalo yang kian maju, ada satu bangunan yang dulu berdiri sebagai simbol harapan bagi mahasiswa Boalemo di perantauan: Wisma Boalemo. Gedung ini dibangun dengan semangat gotong royong dan harapan besar agar menjadi tempat bernaung bagi para pelajar Boalemo yang menimba ilmu jauh dari kampung halaman.
Namun, di balik megahnya cerita pendirian, Wisma Boalemo kini justru menjelma menjadi bangunan sunyi yang menyimpan ironi. Bangunan yang seharusnya hidup dengan tawa dan diskusi mahasiswa itu kini lengang, berdebu, dan bahkan dijuluki warga sekitar sebagai “rumah hantu.”
Padahal, dalam cita-cita awalnya, wisma ini diharapkan menjadi pelabuhan terakhir bagi para “pelaut ilmu” dari Boalemo, tempat beristirahat dari kerasnya biaya kontrakan dan tuntutan hidup di kota pelajar. Ia dibangun dari “keringat harapan” agar tak ada lagi anak daerah yang gagal kuliah hanya karena tak mampu membayar sewa tempat tinggal.
Sayangnya, janji itu kini terasa luntur. Setelah bertahun-tahun menanti kabar peresmian pasca-renovasi, Wisma Boalemo justru dibiarkan terbengkalai. Catnya memang baru, lantainya sudah mengkilap, tapi tanpa penghuni, semua itu hanya menjadi monumen kesia-siaan.
Kapan Janji Itu Ditepati?
Dalam waktu dekat, tahun ajaran baru akan segera dimulai. Ratusan mahasiswa asal Boalemo kembali berbondong-bondong ke Gorontalo, membawa semangat dan harapan baru. Bagi mereka, Wisma Boalemo seharusnya menjadi tempat berlabuh yang layak dan terjangkau.
Namun, hingga kini, tak ada tanda-tanda peresmian atau pemanfaatan. Gedung megah itu tetap terkunci dan sunyi, seolah menunggu takdirnya sendiri di tengah hiruk pikuk kota.
Renovasi sudah selesai, catnya baru, tapi apa gunanya jika tidak difungsikan? Ini bukan hanya soal gedung, ini soal janji moral kepada generasi muda Boalemo.
Misteri di Balik Keterbengkalain
Keterlambatan pemanfaatan Wisma Boalemo ini juga memunculkan banyak pertanyaan publik. Bisik-bisik dugaan penyimpangan anggaran mulai berembus di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Jika renovasi telah rampung, mengapa bangunan itu tetap kosong? Apakah ada persoalan administratif, atau justru ada sesuatu yang disembunyikan di balik proyek ini?
Jangan biarkan Wisma Boalemo menjadi proyek fatamorgana yang hanya menghabiskan anggaran tanpa manfaat. Pemerintah daerah punya utang moral untuk menjelaskan kepada publik.
Transparansi dan akuntabilitas harus segera ditunjukkan. Publik berhak tahu ke mana arah dana renovasi yang telah digelontorkan dan kapan bangunan itu akan benar-benar berfungsi.
Kembalikan Ruh Wisma Boalemo
Kini, masyarakat dan mahasiswa menunggu langkah konkret dari Pemkab Boalemo. Wisma Boalemo harus segera difungsikan sesuai tujuannya: sebagai rumah harapan bagi mahasiswa Boalemo di Gorontalo, bukan sekadar bangunan bisu yang menambah daftar aset daerah terbengkalai.
Sudah saatnya pemerintah daerah menepati janji dan menghidupkan kembali ruh Wisma Boalemo. Ia harus menjadi simbol kepedulian, bukan simbol ketidakpedulian.
Bupati Boalemo dan seluruh pihak yang terlibat memiliki utang moral untuk segera memberikan klarifikasi yang transparan, pertanggungjawaban yang akuntabel, dan yang paling krusial, mengembalikan ruh Wisma Boalemo agar ia dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ia harus menjadi rumah bagi harapan, bukan lagi sarang misteri.
Wisma Boalemo harus kembali berdenyut, hidup, dan menebarkan manfaat. Segera resmikan dan fungsikan! Jangan biarkan ia menjadi tugu peringatan atas janji yang tak terwujud!













