Oleh: Aril Koly
Poota.id, Opini – Panggung politik kampus kembali memanas di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Setelah serangkaian drama, kini tersisa tiga nama calon Rektor yang siap merebut takhta kepemimpinan.
Momen ini seharusnya membawa angin segar, namun, bagi hati nurani yang jernih, bau anyir pengkhianatan dan impunitas masih menusuk tajam. Pemilihan ini bukan hanya soal suksesi; ini adalah pengingat bahwa luka tiga tahun lalu akibat kematian tragis Hasan Saputra, mahasiswa Fakultas Syariah jurusan HKI, dalam lingkaran pengkaderan yang brutal, belum pernah benar-benar terobati.
Inilah anomali yang paling memuakkan: mahasiswa dikorbankan dan dipidanakan, dijadikan tumbal untuk meredam kemarahan publik. Sementara itu, hierarki birokrasi kampus secara kolektif ‘mencuci tangan’ dan membersihkan jejak mereka dari tanggung jawab moral dan hukum.
Lebih mencengangkan lagi, salah satu figur calon rektor yang kini beradu visi-misi diduga keras adalah bagian integral dari sistem ‘cuci tangan’ yang keji tersebut. Dia melangkah maju seolah-olah sejarah kelam itu tidak pernah terjadi.
Kita harus bertanya dengan suara keras: Sakit apa yang menggerogoti IAIN Sultan Amai Gorontalo? Mengapa institusi keagamaan yang seharusnya menjunjung tinggi etika malah menjadi sarang bagi sindikat kejahatan birokrasi yang terstruktur dan masif?
Kejahatan ini adalah pembiaran yang disengaja, sistem proteksi yang dirancang untuk melindungi pelaku di atas kepentingan korban dan kebenaran.
Ironisnya, di tengah pusaran kegelapan ini, daya kritis mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) seperti telah dimatikan. Mereka kehilangan kompas moral dan jiwa perlawanan yang seharusnya menjadi benteng terakhir kampus. Mereka dibungkam, dikendalikan, atau mungkin dijangkiti ketakutan, membuat birokrasi leluasa bermain tanpa pengawasan.
Kini, proses penentuan rektor dengan tiga kriteria evaluasi sedang berjalan. Bolehkah kita bertanya, apakah mahasiswa—pemilik sah masa depan kampus—benar-benar dilibatkan? Atau, apakah ini hanya pertunjukan elit yang sengaja mengangkangi regulasi demi meloloskan kandidat yang paling kompromistis dengan kepentingan tersembunyi? Demi kursi nomor satu, etika dan keadilan diinjak-injak.
Cukup sudah sandiwara ini! Pemilihan rektor harus menjadi momentum revolusi moral. Kita semua harus bersatu padu, tanpa terkecuali, demi IAIN yang lebih baik. Tuntutlah transparansi dari masa lalu. Desaklah pertanggungjawaban dari para petinggi yang kini berlomba menjadi pemimpin. IAIN tidak butuh teknokrat yang dingin; IAIN membutuhkan pemimpin dengan darah mendidih yang berani membersihkan nanah birokrasi dan mengembalikan marwah keadilan di atas altar akademik.
Hentikan impunitas! Sembuhkan luka ini! Bersatu atau kampus ini akan terus dipimpin oleh bayang-bayang dosa masa lalu!













