Penulis: Mawan Pakaya
Poota.id – Di suatu sore yang sedang sendu, saya terpaku menatap puluhan pasang mata yang tengah menyaksikan perubahan grafik perolehan suara hasil hitung cepat pilkada tahun 2024. Sebagai kandidat yang ikut dalam perhelatan itu tentu saja mata saya turut membersamai perubahan angka-angka yang ditampilkan pada layar monitor di dinding Rumah Juang kami. Ya, rumah perjuangan. Tempat berkumpulnya manusia-manusia baru yang mendambakan perubahan di tanah kelahirannya.
Sebelum hasil hitung cepat itu berakhir dan dinyatakan full 100 persen, saya masih memegang keyakinan penuh bahwasanya saya tetap mejadi pemenang dalam pertarungan itu. Keyakinan itu lantas bukan tak berdasar. Mengingat partai yang mengusung saya adalah Partai terbesar kedua di Republik ini. Apalagi kalau bukan partai Gerindra besutan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Variabel lain yang tetap meneguhkan keyakinan itu juga tidak lepas dari dukungan orang-orang pusat, program yang terukur, dan tentu puluhan ribu dukungan masyarakat yang menginginkan perubahan. Konon dari puluhan ribu dukungan yang mengalir itu, mayoritas masyarakat sangat membutuhkan akses. Toh juga menurut mereka semua keadaan yang terjadi di daerah dikarenakan kurangnya aksesibilitas baik ditingkat regional kebawah pun tingkat nasional ke atasnya. Dan kalaupun ada, maka akses itu hanya akan berpihak pada golongan dan kelompok tertentu. Tidak semua bisa mendapatkan akses yang sama.
Di sudut rumah yang sama, seorang teman mengalihkan pandangannya kepada saya. “Kita sudah kalah sejak tiga hari yang lalu.” Pekik suara itu tidak terdengar lantang, sebaliknya sayu seperti suara angin yang menebas pepohonan. Percaya pada kekalahan dan meyakini kemenangan memang dua hal yang berbeda. Untuk membedakannya tidak jauh-jauh; tataplah sorot mata yang penuh harapan dan kepalsuan maka hasilnya sudah bisa ditebak.
Dilayar monitor, angka-angka perolehan suara masing-masing dari pasangan calon mulai menunjukan jumlah perolehan suara. Saya menduduki peringkat ketiga perolehan suara terbanyak dari lima paslon yang bertarung. Ada sekitar 9.000 suara yang berhasil terekam dalam proses hitung cepat. Dengan segala keterbatasan di lapangan, angka itu sudah sangat maksimal. Mengingat pekik suara teman saya bahwa sejak tiga hari yang lalu kami telah dinyatakan kalah. kesimpulan sementara dari apa yang dipercaya sebagai kekalahan adalah ketika kami hanya berhasil mengumpulkan setidaknya 2000 an suara dari mesin-mesin simpatisan dan relawan yang telah berjibaku selama proses kampanye berlangsung. Sebut saja kerja-kerja kolektif dari Timses (Tim Sukses). Sebagaimana yang telah diyakini bahwa kekalahan telah ada sejak tiga hari yang lalu, ternyata benar adanya. Tapi perolehan suara 9000 adalah gambaran kemenangan kami yang sebenarnya. Paling tidak ada 7000 dukungan yang mengalir kepada kami tanpa paksaan, melainkan karena kesadaran yang sama ingin memajukan daerah yang kian dirundung nestapa.
Pertanyaan kemudian adalah masihkah kami meyakini bahwa kemenangan itu berpihak kepada kami manusia baru ini? Apakah 9000 suara dukungan dari masyarakat akan kami artikan sebagai pencapaian kekalahan di pilkada? Jawabannya tidak. 9000 suara sangat berarti bagi eksistensi kami di ruang politik konvensional yang ada di daerah. Paling tidak, kami berhasil menghindari tindakan-tindakan simpatisan yang berujung pada kekerasan baik verbal maupun nonverbal. Dalam konteks tindakan kekerasan politik ini lantas saya mengingat Kembali pernyataan MC Bachri, seorang cendekiawan UI. Menurutnya dalam tindakan politik, orang punya dua pilihan; dengan kekerasan (Violence) atau tanpa kekerasan (non Violence). Jika orang-orang menganggap dua pilihan itu adalah sesuatu yang normal yang wajar ketika itu dijadikan sebagai alat untuk kemenangan, maka pilihan atas tindakan keduanya itu akan sangat tergantung pada harga diri masing-masing.
MC Bachri menyadarkan saya, betapa pada perhelatan pilkada yang lalu saya beserta tim benar-benar menjaga integritas kami baik di internal maupun eksternal (mitra tanding). Di saat relawan pendukung paslon lain sangat gencar mengambil jalan kekerasan sebagi bentuk dari kerja-kerja politik mereka, kami justeru memilih jalan berbeda. Lebih memilih diam dan menahan diri. Itulah mengapa 9000 suara adalah kemenangan kami yang sesungguhnya. Angka-angka itu adalah angka yang tidak dibarengi oleh tindak kekerasan. Angka itu adalah angka yang tulus, angka yang jujur, angka yang tidak sama sekali menghendaki tindak kekerasan terjadi di ruang politik, angka yang menjelaskan bahwa selain sikap sebagai bentuk dari keberpihakan politik itu sendiri, kekerasan dalam politik adalah hal yang patut diperangi bersama. Angka yang tidak menyebabkan memar di wajah.
Btw ibu-ibu relawan yang dikeroyok pada saban lalu, sudah bagaimana keadaannya? Sudah sembuh kah memar diwajahnya? Lantas upaya hukum apa yang diambil oleh dalang politiknya? Membangkitkan semangat juang untuk berpolitik itu tidak salah. Yang keliru jika yang dibangkitkan justeru fanatisme buta.













