Oleh: Hamzatusysyahid, S.Th.I
Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Boalemo
Poota.id, Edukasi – Dalam setiap momen sakral pernikahan, terutama di masyarakat Indonesia, sering kita dengar ucapan penuh doa seperti “Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah” atau yang sering disingkat menjadi Samawa. Kata ini bukan hanya sekadar ucapan selamat, tetapi mengandung makna yang dalam, harapan luhur bagi pasangan yang baru memulai kehidupan rumah tangga.
Asal dan Arti Kata Samawa
Samawa merupakan akronim dari tiga kata dalam bahasa Arab yang sarat makna, yaitu:
Sakinah (سَكِينَة) yang berarti ketenangan, kenyamanan, kedamaian, dan ketentraman. Rumah tangga yang sakinah adalah rumah tangga yang damai, penuh kasih, komitmen yang kuat pernikahan yang kuat dan jauh dari pertikaian.
Mawaddah (مَوَدَّة) yang berarti cinta yang penuh kasih sayang. Ini bukan hanya cinta yang membara di awal, tetapi cinta yang tumbuh dan bertambah seiring waktu, meski raga menua dan tantangan hidup datang silih berganti.
Warahmah (رَحْمَة) yang berarti rahmat atau kasih yang penuh ampunan. Dalam rumah tangga, rahmah hadir dalam bentuk saling memaafkan, memahami, dan berlapang dada dalam menghadapi kekurangan pasangan.
Ketiga unsur ini merupakan cita-cita ideal dalam kehidupan pernikahan menurut ajaran Islam. Kata-kata tersebut juga disebutkan dalam Al-Qur’an, surat Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” QS. Ar-Rum: 21
Mengapa Samawa Diucapkan Saat Pernikahan?
Ucapan “semoga Samawa” bukan hanya sekadar tradisi atau formalitas, melainkan sebuah doa. Dalam budaya kita yang sarat nilai keagamaan dan spiritualitas, momen pernikahan dianggap sebagai awal dari perjalanan panjang dua insan yang menyatu dalam ikatan suci.
Dengan mengucapkan “Samawa”, para tamu, keluarga, dan sahabat mendoakan agar pasangan tersebut tidak hanya bersatu secara fisik, tapi juga secara batin dan spiritual. Tak hanya itu, mereka juga mendoakan agar rumah tangga mereka menjadi tempat berlabuh yang aman di tengah badai kehidupan. Cinta mereka tidak lekang oleh waktu, tapi justru tumbuh subur di antara tawa dan air mmata Mereka diberi kekuatan untuk saling memaafkan, saling merangkul, dan berjalan bersama hingga akhir hayat.
Samawa: Doa yang Hidup
Dalam realitasnya, membangun rumah tangga bukanlah hal mudah. Akan ada tantangan, godaan, dan ujian. Karena itulah Samawa menjadi penting. Ia bukan sekadar harapan kosong, melainkan doa yang hidup, yang terus diulang dan diikhtiarkan setiap hari oleh pasangan suami-istri. (*)









