Oleh: Hamzatusysyahid, S.Th.I (Ketua PD IPARI Boalemo)
Poota.id, Edukasi – Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Dalam banyak riwayat dan penjelasan para ulama, bulan ini bukan hanya menjadi penanda awal tahun Hijriyah, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperbanyak amal ibadah dan merenungi makna hijrah secara spiritual.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa Muharram adalah syahrullah, bulan Allah, yang memiliki keutamaan khusus di sisi-Nya. Maka, menjalankan ibadah, khususnya puasa sunah, di bulan ini sangat dianjurkan dan mendatangkan pahala besar.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut empat bulan suci (bulan haram) yang dimuliakan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk menjauhi segala bentuk kezaliman, serta memperbanyak amal saleh. Bulan-bulan ini menjadi momen pelipatan pahala, namun juga penggandaan dosa bila seseorang melakukan maksiat di dalamnya.
Secara historis, Muharram berkaitan erat dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Meski hijrah terjadi di bulan Rabiul Awal, kalender Hijriyah ditetapkan mulai dari Muharram atas keputusan Khalifah Umar bin Khattab. Muharram lalu menjadi simbol awal perubahan, semangat meninggalkan keburukan menuju kebaikan, dan perjalanan spiritual menuju ridha Allah SWT.
Puncak keutamaan bulan Muharram berada pada tanggal 10-nya, yang dikenal sebagai Hari Asyura. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa di hari tersebut.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata:
“Aku tidak pernah melihat Nabi SAW begitu semangat berpuasa seperti di hari Asyura dan di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Puasa Asyura menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Disunahkan pula untuk berpuasa sehari sebelumnya (9 Muharram) sebagai pembeda dari kebiasaan puasa kaum Yahudi yang juga merayakan Asyura.
Ulama sepakat bahwa bulan Muharram adalah waktu mustajab untuk berdoa dan bermuhasabah. Banyak umat Islam membaca doa awal dan akhir tahun Hijriyah, sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar diberikan perlindungan dari segala keburukan dan dibukakan jalan menuju kebaikan sepanjang tahun.
Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk meneguhkan tekad, memperbarui niat, dan memperkuat komitmen ibadah. Ini adalah bulan untuk memperbanyak sedekah, salat sunnah, zikir, dan amal-amal kebajikan lainnya. Karena itu, Muharram adalah awal spiritual, bukan sekadar awal kalender.
Bulan Muharram adalah bulan Allah yang penuh kemuliaan. Jangan lewatkan momentum ini hanya dengan aktivitas duniawi. Jadikan bulan ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki diri, dan memulai lembaran baru dalam hidup dengan niat yang bersih.
Karena sejatinya, keberkahan hidup tidak terletak pada banyaknya waktu, tetapi pada bagaimana kita mengisinya. Maka mari isi Muharram dengan cahaya kebaikan dan semangat hijrah yang hakiki.









